FROZEN EMOTIONAL ATTITUDE TEREXPRESSI PADA KREASI PARA SENIMAN YANG BERMADHAB “ESTETISME”

A B S T R A K

Lord Brain[1] menandaskan bahwa manusia yang tak memperhatikan lagi segi-segi moral dan spiritual dari kehidupannya karena terlampau mementingkan kehidupan lahiriah saja, merupakan manusia yang dihinggapi penyakit yang ia sebut “Frozen Emotional Attitude”. Mereka semua memerlukan re-edukasi emosional. Lantas bagaimanakah caranya memberi mereka re-edukasi emosional tersebut? Jaques Barzun[2] menandaskan: “Restore God to the fullness of His Reality”.

Sikap batin yang beku tersebut sering melanda para seniman yang di puncak menara gading kesenimannya, secara eksklussif berkoar-koar mengatakan dengan angkuhnya bahwa seni cumalah untuk seni semata! Seni untuk kenikmatan diniawi semata! Mereka nyaris memberhalakan nilai-nilai estetis, dari mulai kaidah-kaidah estetik yang dibakukan oleh segelintir pemikir seni seperti Golden Section misalnya, hingga faham Estetisme yang menghalalkan segala cara berkesenian, kendatipun jelas-jelas melanggar norma-norma keagamaan yang dipeluknya!

Tulisan ini sekedar penggambaran kembali, betapa seni, dalam hal ini khususnya seni rupa, lewat berbagai coraknya, telah mengalami perjalalan cukup panjang tatkala meronta-ronta ingin menjumpai sesuatu nilai keadiluhungan, namun pencapaian religiositas keadiluhungan transendentalnya masih perlu dipertanyakan!

Sejak Golen Section[3] mencanangkan suatu doktrin keindahan yang membakukan bahwa bidang lima berbanding delapanlah (5:8 bagi lebar dan tinggi) yang dinilai paling estetis, maka para seniman di saat itu mulai tidur lelap dalam stagnasi kreativitasnya. Mereka tertipu mentah-mentah oleh apa yang disebut pemaksaan citra rasa yang digaung-gaungkan oleh kepongahan kelompok seniman eksklusif yang merasa memiliki legitimasi mutlak di dalam memberikan penilaian final bagi keindahan-keindahan yang rupawi. Golden Section yang diinspirasi oleh kaidah-kaidah matematik pada konstruksi piramid di negeri Cleopatra (Mesir Kuno), ternyata telah berjaya selama dua abad lebih di dalam menularkan citra estetis yang seragam namun sempit, ke dalam dunia seni rupa yang masih terpukau oleh hal-hal yang spektakuler formal; dalam artian bahwa, yang dianggap estetis oleh orang-orang tingkat atas, secara otomatis akan menjadi patokan rasa seni bagi orang-orang di tingkat bawah.

Golden section (kesetangkupan keemasan) tersebut sempat dikategorikan ke dalam bentuk estetis matematis oleh sebahagian pengamat seni yang cuma memberikan nafas lega bagi citra keindahan yang obyektif arsitektural. Padahal, bukankah seni merupakan manifestasi dari getar batin manusia yang ragam penuangannya tak mungkin dibatasi oleh takaran-takaran ruang dan waktu (termasuk proporsi bentuk dan anatomi), atau dibatasi oleh “kemestian” media dan keniscayaan teknik? Atau dalam gaya bahasa langit, bukankah seni merupakan rotasi-rotasi getar haru manusia yang diorbitkan lewat berbagai falak kreativita, yang tak puas-puasnya bergerak dan berkembang ke segala arah?

Proporsi bidang segi empat yang tinggi dan lebarnya 2:3 atau 3:5 atau 5:8 tak mungkin disetarakan dengan indahnya lengkungan pelangi di langit sore yang mempesona bagi setiap orang yang memandangnya. Perbandingan ukuran bendawi tersebut cuma sebuah alternatif saja dari jutaan alternatif yang menggenahkan perasaan manusia, sebagaimana halnya yang satu menyukai warna biru namun orang lain menyukai warna merah, dsb. Walaupun pada kenyataannya, bangunan Parthenon yang menurut kabar burung tataan arsitekturalnya menggunakan Golden Section, nyaris dikagumi setiap orang. Namun itu kan cuma kekaguman pada kedahsyatan benda-benda bersejarah saja, sebagaimana halnya tatkala kita mengagumi candi Borobudur dan Prambanan!

Seni adalah unik! Tatkala Basuki Abdullah lewat visi estetiknya melukiskan seorang wanita cantik yang dipercantik lagi seribu kali, sebaliknya Affandi yang telah tua renta gayeng-gayeng saja melukiskan seorang peminta-minta yang berkaki kudisan dalam kekumuhan suasana apa adanya, dengan teknik plototan catnya yang spontan dan sama-sekali tak cantik dan tak bernilai estetis. Basuki tak mungkin


Basuki Abdullah yang berjiwa romantis, melukis kuda pun menjadi cantik, apa lagi jika ia melukis obyek figur wanita. Kesan beauty tersirat dari perindahan bentuk dan pemilihan warna yang cemerlang. Keindahan pada sebahagian besar lukisan Basuki Abdullah merupakan keindahan yang estetis obyektif ringan yang terkadang hampa dari pendalaman ekspresi. Judul lukisan “Keluarga berencana”, dengan teknik cat minyak di atas kanvas.

memaksa perupa lain agar melukis seromatis gaya naturalistiknya, sebaliknya Affandi pun tak mungkin ingkar dari visi kesenirupaannya yang ekspressif transendental, yang senantiasa khusuk mengadakan penggalian artistik ke dalam kenyataan hidup manusia-manusia kecil dan papa. Tatkala seorang Basuki Abdullah dengan mengenakan topi baret dan safari mahal berlengan pendek tengah asyik-asyiknya melukis nyonya mentri yang pipinya moleg berkebaya brokat seharga ratusan ribu rupiah di kota metropolitan, nun jauh di sana di kota gudeg, seorang maestro seni rupa Indonesia bernama Affandi, dengan beralaskan sehelai tikar compang-camping tengah melukis seorang wanita tua renta yang susunya peot, dengan mengenakan sarung poleng dan kaos oblong yang telah kumal. Mereka berdua merupakan manusia beda yang visi berkeseniannya pun amat berbeda. Begitu pula alangkah berbeda dengan Rembrandt van Rijn yang gemar mengemphasiskan “cahaya jendela” pada kanvas-kanvasnya, atau dengan Pablo Picasso yang doyan mengacak-ngacak anggota tubuh model-modelnya. Ternyata modal fitriyah, visi dan pewedaran batin manusia yang berbeda satu sama lain, telah memungkinkan munculnya berbagai madhab (aliran) yang sama sekali tak setangkup.


Affandi melukis kuda tidak dicantik-cantikan. Namun lebih menekankan pada pewedaran ekspressi dari binatang kuda itu sendiri. Goresan-goresan plototan catnya yang spontan dan dinamis dengan warna-warna yang terbatas, menjelmakan di atas kanvas sebuah lukisan dari kuda binal yang amat gamblang menghadirkan typering primernya. Judul lukisan “Kuda Putih”.

Estetisme yang jorok

Namun perbedaan visi dalam bersenirupa di kawasan bumi yang penuh dengan kechaosan batin ini, telah memunculkan seni riskan yang niscaya pula membikin tatanan rupa yang chaotik. Pengaruh Victor Cousin dengan doktrin estetisme-nya nyaris menjerumuskan para pelukis bebas ke kubangan a-moral dengan dalih seni demi seni. Pelampiasan ekspressi berkesenian telah disalahgunakan oleh beberapa “oknum” perupa yang tak lagi menggubris batas-batas moral, lebih-lebih lagi agama. Seni rupa nyaris merupakan keasyikan sanggama bebas yang tak pantas tampil di hadapan masyarakat bermoral, sebagaimana bisa kita lihat pada karya- karya Max Beckmann1 berjudul Ville de laiton yang dibikin tahun 1944 dan Triptyque de Persee yang dibikin tahun 1941. Kendati judulnya berbeda, kedua lukisan tersebut lebih pantas disebut sekedar pelampiasan obsesi sexsualistik belaka dari seorang perupa yang kecewa dengan ”serba larang” terhadap kebebasan berekspressi. Pisau pembunuh yang tajam teremphasis dilatarbelakangi wanita bugil dalam pose yang jorok. Dari kedua lukisan yang dipajang di Saarland Museum di Sarrebruck dan Museum Folkwang di Essen tersebut terpancar kekumuhan piktura yang penuh misteri yang terlampau riskan jika dinikmati oleh para appresiator timur yang memiliki kehalusan budi.

Faham estetisme sempat membikin kejutan di sekitar tahun delapanbelasan tatkala Carl Hofer membikin lukisan jorok yang berjudul Couple. Lukisan tersebut mempertontonkan dua sejoli telanjang bulat yang tengah melampiaskan birahi. Dan setahun kemudian seniman Emil Nolde pun membikin adegan yang sama pada lukisannya yang berjudul Le reveur2, yang melukiskan wanita telanjang bulat yang tengah merayu lelaki yang berbusana lengkap. Lantas tigapulussatu tahun kemudian Marc Chagall pun dengan gaya surialistiknya membikin lukisan estetismenya yang ia juduli Les ponts de la Seine.

Dan, estetisme yang berkesan “brutal” tersebut telah pula berjangkit di kalangan para senirupawan timur termasuk Indonesia. Wanita telanjang bulat dijadikan obyek lukis yang cukup merangsang di tahun lima puluhan hingga enampuluhan. Rasanya belum tabah disebut pelukis jika belum mahir melukis Nude. Doktrin “seni untuk seni” begitu mewabah di saat itu, sehingga nyaris menyisihkan nilai-nilai akhlak dan moral manusia timur. Nilai estetis yang dipancarkan oleh sebuah lukisan wanita bugil karya Amedeo Modigliani yang dijuduli Nu feminin3 yang dilukis tahun 1917, benar-benar telah merasuk ke kalangan senirupawan Indonesia yang mulai dipengaruhi ageman estetisme, sehingga terlukislah di atas kanvas berbagai bentuk deformasi figur telanjang yang diinspirasi oleh Nu feminin tersebut. Selain Nu femini, muncul pula judul Deux nus feminis yang dilukis oleh Edvard Munich, kendati tak sepopuler Nu feminin tersebut, bahkan pengaruh nilai estetik plastikismenya masih jauh dikalahkan oleh lukisan nudenya Alexei von. Jawlensky yang dijuluki Nu assis yang dibikin tujuh tahun lebih awal dari Nu feminin yang menggebrak dunia estetisme di barat maupun di belahan timur.

Bagi para perupa komersil sebagaimana Basuki Abdullah ataupun Saptohudoyo misalnya, lukisan wanita bugil karya Edvard Munich berjudul Madone4 yang dibikin tahun 1894 yang menghadirkan postur erotisisme, paling tidak, telah memberikan pengaruh besar ketimbang lukisan bugil yang berjudul Nus sous les arbres karya Franz Marc yang dibikin tahun 1911 dan bergaya impressionistik atau Nu debout sous les arbres karya perupa Otto Mueller yang dilukis tahun 1915.

Estetisme nudistik muncul pula di era dadais di antaranya terlihat pada karya Francis Picabia, kendati dadaisme sendiri – dalam ulah pemberontakannya – tak terlampau mengekspose keindahan yang estetis semata-mata, namun lebih cendrung menggaungkan visi keindahan yang lebih transendental non estetis, yang dimanifestasikan lewat simbol-simbol ataupun metafor-metafor yang menyatire kehidupan seni maupun sosial yang dianggap terlampau stagnan dalam pengembangan kreativitanya.

Pelukisan-pelukisan bugil dari figur wanita maupun pria di zaman kontemporer tak ayal lagi telah banyak dipengaruhi oleh karya-karya rupa pada zaman Baroque dan Seni Rococo seputar tahun 1600 hingga 1800, di antaranya sebuah patung monumental karya Lorenzo Bernini (1599-1680) yang dijuduli The Rape of Proserpina5. Lantas patung karya Claude Michel yang berjudul The Intoxication Wine yang dibikin dari bahan tera-cotta dan dipajang di Museum of Art.

Seni rupa modern Eropa telah banyak menmunculkan karya-karya nude dalam berbagai teknik seperti cukilan kayunya Aristade Maillol (186101944) yang berjudul Dalphnis and Chloe, lithographynya Picasso yang berjudul Nude Seated, lantas etsanya Ander Leonard Zorn (1860-1920) yang berjudul Wet, dsb. Dan semuanya masih bergelut dalam takaran keindahan yang esteis.

Visi Transendental dalam Seni Rupa

Visi transendental dalam seni rupa tak lagi terlampau menggubris elemen-elemen estetis semacam harmoni warna-warna, keserasian proporsi, keseimbangan fisik dan banyak lagi yang biasanya erat kaitan dengan estetika. Visi transendental melihat seni sebagai sesuatu keindahan apa adanya, tanpa dipola lagi oleh kepentingan-kepentingan rupawi yang seimbang menurut mata, genah menurut rasa, atau canggih menurut karsa, sebab transendental sendiri memiliki pengertian sesuatu yang sulit difahami, atau di luar pengertian dan pengalaman biasa.

Betis yang mulus itu bagus bahkan orang mengatakannya indah. Namun betis yang penuh kudispun ternyata diindahkan orang pula kendati dengan perasaan jijik. Namun demi kebutuhan artistika seni, betis yang penuh kudis tersebut berkat suatu idea yang “tak masuk akal” bisa saja menjadi inspirasi artistik selain wajah cantik, pemandangan indah, bunga yang beraneka warna, dsb. Menikmati keindahan betis penuh kudis merupakan hal yang tak masuk akal dalam kondisi yang normal. Namun setelah obyek betis kudisan tersebut ditransfer ke latar kanvas dan menjadi lukisan artistik, maka keindahan sisi lain akan hadir di ruang kesadaran kita. Pada saat itulah kita temukan keindahan transendental yang tidak estetis, sebagaimana juga tatkala kita mengagumi lukisan sudut-sudut yang kumuh, rumah reyot yang penuh sampah berbau busuk, dsb.

Menikmati keindahan lukisan Affandi, tak mungkin lewat kacamata estetika yang biasa. Kita lebih membutuhkan visi transendental ketimbang visi estetik tatkala mengamati karya Sang maestro yang menurut pengamatan awam bagaikan benang kusut tersebut. Begitu pula tatkala kita mengamati kucing-kucingnya Popo Iskandar, sketsa-sketsanya Rusli, lukisan-lukisannya Marc Chagall, dsb.

Tatkala Jeihan menjumpai idea artistik “mata bolong” yang terilhami lukisan figuratifnya Amedeo Modigliani, visi transendentallah yang ia temukan pada saat itu.


Selfportrait Affandi yang melukiskan penderitaan panjang yang dialaminya, telah melontarkan typering primer seorang manusia yang memiliki mental baja. Kenikmatan mengisap cangklong terpancar dari wajah tua yang keriput. Mentari hitam yang melatarbelakanginya, silhuette wajah yang menjadi emphasis yang dominan, telah mencuatkan keindahan transendental yang sulit dinikmati orang-orang awam.

Begitu pula tatkala Karel Apel mencipratkan warna-warni cat minyak dengan galaknya di atas kanvas besar yang bergetar-getar tertekan jari-jemarinya yang belongkotan. Emosinya yang binal pada saat itu, terenergi gerakan-gerakan bawah sadar yang tak mungkin dipola lagi oleh patern-patern estetika. Oleh sebab itu, kesibukan Karel Apel tatkala melukis, merupakan pintonan unik yang mengasikkan. Segenap anggota tubuhnya bergetar, ekspressi wajahnya pun seakan meraung-raung membagikan kelebihan emosi yang tak terwadahi kepada orang lain yang menyaksikannya. Tak berlebihan kiranya jika peristiwa seperti itu sudah boleh dibilang sebuah teater kecil yang memancing empathy secara berkesinambungan.

Hampir semua lukisan Willem de Kooning tak mungkin ditatap lewat kacamata estetika. Kebinalan melukis hampir setara dengan Karel Apel, cuma bedanya, lukisan Willem de Kooningl masih mengikatkan diri pada figur-figur sebagaimana halnya kita lihat pada karyanya yang berjudul Women I , sedangkan hampir semua lukisan Karel Apel bergaya abstraktionisme yang sama sekali tak menyertakan figur-figur.

Memang, keindahan transendental tak senantiasa melekat pada setiap karya seni atau alam sebagai obyek seni. Sebuah batang pohon yang telah keropos dimakan rayap, bisa saja menghadirkan bentuk artistik (nyeni) kendati tak bernilai estetis samasekali. Andaikan seniman pekak terhadap getar transendental dari obyek yang telah dianggap sampah tersebut, maka dengan sedikit rekayasa seni, jadilah batang kropos tersebut menjadi benda “baru” yang memiliki nilai seni.


Salah satu lukisan kucing Popo Iskandar yang tak diserap dari signal-signal keindahan obyektif. Popo menyerap figur kucing secara kepekaan yang nonvisual, berbeda dengan lensa fotografi yang mampu merekam obyek natural yang normal. Visi seninya bukanlah sekedar visi estetik.

Berbeda pula dengan lukisan Mulyadi yang berjudul “Kakak-beradik” ini. Sang pelukis mewedarkan visi estetikanya lewat penglihatan Modigliani yang polos. Akan tetapi berbeda dengan lukisan Jeihan yang juga diilhami oleh “mata bolor”-nya Modigliani, Mulyadi lebih menuangkan figur-figur gadis cilik lewat tataan rupa yang semi dekoratif-estetik. Namun visi estetika Mulyadi berbeda dengan visi “Estetisme” para perupa super bebas yang cenderung mengekspose Libidoisme Freudian. Dalam kata lain, lukisan-lukisan Mulyadi kebanyakan memiliki nilai estetika tinggi, namun tidak estetisme!

Walhasil, seni pada umumnya atau seni rupa pada khususnya, tak perlu kita klaim sebagai wahana estetis yang mesti sarat dengan nilai-nilai estetis, sebab arti dari estetik berbeda dengan arti dari kata artistik. Sesuatu yang artistik bisa saja memiliki keindahan yang transendental, oleh sebab itu, suatu yang artistik bisa saja tak memiliki nilai estetis samasekali; atau mungkin pula, sebuah karya seni bisa saja memiliki keduanya sekali gus, ya estetis, ya transendental sebagaimana pada beberapa lukisan Pablo Picasso, Ferdinand Leger, Georges Braque, atau pelukis Indonesia Ahmad sadali, Bagong Kussudiardjo, dsb.


Lukisan Bagong Kussudiardjo berjudul “Kekayon” ini dibuat dengan teknik batik. Tataan rupa dekoratifnya memberikan kesan magistik namun estetis.

Perupa Ahmad Sadali dengan lukisan cat minyaknya yang berjudul “Hiasan berbingkai Emas” ini lebih menuangkan idea-ideanya lewat tataan yang abstrak, namun jika kita telaah lebih dalam, getar religiositasnya akan terasa lewat campuran dan susunan warna yang matang. Keindahan transesnden pada lukisan Sadali tak mungkin dinikmati lewat kacamata naturalistik!

Lain pula dengan lukisan Rembrant “St. John The Baptist Preaching” yang bergaya realistik ini. Nilai-nilai religiositas transenden terpancar berkat “adegan visual” dan penggunaan teknik “cahaya jendela”, ialah konsep rupa di mana emphasis cahaya terhadir sedemikian rupa sehingga munculnya impressi yang khas yang membuat komposisi piktura menjadi “unik” dan tidak monoton.

Resolusi akhir

Ternyata keadiluhungan seni tak mungkin tercapai tanpa mengikutsertakan Keadiluhungan Tuhan. Estetisme yang kebablasan cuma mencuatkan “sikap batin yang beku” ( frozen emotional attitude) di kalangan para seniman yang semakin lupa bahwa berkesenian merupakan bagian ibadah kepada Sang Mahakreator yang Mencitrarasakan segenap keindahan di alam semesta ini. Memberhalakan nilai-nilai estetik tanpa memperhatikan koridor-koridor moral keagamaan- agama manapun – akan menghapus nilai-nilai pendidikan yang positif yang semestinya terukir indah dalam sebuah karya seni, termasuk dalam karya seni rupa yang memiliki “keindahan estetis” atau dalam karya seni rupa lainnya yang memiliki “keindahan transenden”.