REALISME DALAM TEATER.
A Dictionary of the Theatre (John Russel Taylor, l974: 231) menjelaskan, bahwa Realisme merupakan suatu gerakan drama pada akhir abad sembilan belas yang pada dasarnya agak kurang ekstrim ketimbang (aliran) naturalisme. Tokoh-tokoh aliran Realisme mencoba membuang apa yang disebut the theatre of histrionics dalam bidang acting dan ekses yang terlalu dibuat-buat yang terdapat dalam well-made plays ala Victorien Sardou (seorang dramatist Prancis) dan menggantikan semuanya dengan akting-akting yang tampaknya lebih alamiah dengan lakon-lakon yang---yang disusun dengan hati-hati---kurang tergantung pada coups de theatre yang direncanakan dengan tepat, yang terlalu mekanik. Salah seorang tokoh utama gerakan ini adalah Henrik Ibsen dan karya-karyanya terus menjadi inspirasi bagi pemikir-pemikir seperti dia di negara-negara lain, seperti Shaw di Inggris, George Jean Nathan di Amerika Serikat. Realisme juga menjadi basis teater Stanislavski dan secara meluas sangat mempengaruhi
metode-metode praktisi teater Amerika modern.
(II).
Awal abad sembilan belas memunculkan paham modernisme dan modernisme memunculkan paham kebudayaan modern. Kebudayaan modern ini pada dasarnya dibentuk oleh pola membaca (budaya buku) dan berkembang pesat setelah membiaknya buku. Dengan buku kesadaran diaktifkan, pernyataan dan wacana dapat dikaji ulang dan diperdebat secara lebih kritis, rinci dan meyakinkan. Kebudayaan modern terasa sangat diskursif, sangat verbal.
Wacana verbal berkomunikasi lebih kepada kesadaran, lewat gramatika bahasa. Realitas juga ditinjau lewat kerangka-kerangka bahasawi. Dari sudut ini ketidaksadaran tampil sebagai kecenderungan-kecenderungan liar yang perlu ditaklukkan dan ditata oleh kesadaran.
(III).
Semangat scientific abad sembilan belas benar-benar mengubah teater di abad sebelumnya, yaitu teater yang beraliran romantisme. (George Kernodle, 1985: 188). Penulis-penulis lakon harus menjadi pengamat-pengamat yang objektif; nereka dengan hati-hati mempelajari pengaruh lingkungan yang begitu kompleks terhadap orang-orang yang riil dengan rangsangan-rangsangan manusiawinya yang mendasar. Mereka menciptakan apa yang disebut the illusion of reality di atas pentas. Bingkai gambar prosenium diubah menjadi semacam picture window dan lewat jendela itu kita melihat orang-orang biasa terlibat dalam sekeping kehidupan mereka. Tidak menjangkau tempat-tempat yang jauh dan masa yang telah lampau, tetapi yang kini, di sini dan sekarang, the here and now. Yang digambarkan dalam lakon-lakon bukanlah pahlawan-pahlawan dan bajingan-bajingan yang eksotik, tetapi masalah-masalah biasa. Bukan mimpi-mimpi dan fantasi-fantasi, tetapi suatu studi ilmiah kehidupan yang aktual.
Didasarkan pada observasi yang hati-hati terhadap orang-orang biasa dan tempat-tempat yang riil. Password-nya: Truth was the byword.
(IV).
Masalah realisme dalam teater bukan sekedar taken directly from actuality, tetapi ada pengolahan kesadaran tentang hal yang besar hingga yang kecil dan mencoba menyiasati penggunaan dan pemanfaatan unsur-unsur dalam pentas---yang akan merangsang adanya refleksi terhadap kenyataan hidup yang getir, pahit, mencemaskan, penuh keputusasaan, tetapi tidak juga membuat kita jera untuk hidup terus. (Bakdi Sumanto, 2001:292)
Pembicaraan tentang realisme dalam teater bukanlah pertama-tama mempersoalkan seberapa tepat, cocok, pas antara yang dilukiskan pada naskah lakon dan yang disajikan di atas pentas, tetapi, yang lebih mendasar adalah: bagaimana memahami, merumuskan, menghadirkan sesuatu yang dibayangkan sebagai realitas itu dan bagaimana menggunakannya untuk tujuan-tujuan tertentu.
Ada dua pendapat memang, tentang hal itu. Yang pertama, dari Somerset Maughm yang menyajikan apa adanya, membiarkan masalahnya berbicara sendiri. Yang kedua, dari Henrik Ibsen dan Bernard Shaw yang terasa begitu sibuk ikut campur mempengaruhi opini pembaca atau penonton drama.
Mnurut Kernodle, walau kita biasanya tidak menerapkan istilah impresionisme ke dalam realisme, kita akan bisa memahami realisme itu dengan lebih baik bila kita menyimaak seni rupa, musik dan drama yang merespon dengan cara yang sama pada kemajuan-kemajuan historis akhir abad sembilan belas dan bahwa estetika impressionisme dalam seni rupa dan musik mempunyai banyak kesamaan dengan realisme dan naturalisme dalam teater. Dari sanalah lalu terjadi saling serap diantara aliran-aliran tersebut yang kemudian melahirkan (di Barat) apa yang disebut selected realism,di mana peralatan pentas diseleksi, tidak asal diisi dengan rinci. Kemudian ada (aliran) stylized realism yang menyajikan realisme dalam sajian ekspresionisme. Greget-dalam disajikan pada setnya. Di Amerika dikenal oriental realism, realisme timur dan dari sini Brecht mengembangkan konsepnya epic realism. (Lihat lebih lanjut tentang realisme epik ini dalam Kernodle, halaman 262-271. Kernodel menekankan transformasi
realisme yang paling penting adalah epic realism. Ia begitu berbeda dengan teater naturalistik yang awal dan banyak orang menyebutnya sebagai suatu pemberontakan terhadap realisme.Realisme agak membelah dunia ini menjadi fragmen-fragmen, tetapi fragmen-fragmen itu disatukan ke dalam sebuah gambaran dunia nyata yang penuh makna).
(V).
Teater realis membagi pentas ke dalam wilayah-wilayah (stage geography) yang mempunyai nilai sendiri-sendiri; setiap wilayah memiliki signifikansinya sendiri. Pentas, misalnya, dibagi ke dalam sembilan wilayah. Bagian belakang pentas di sebut uprightt, upcenter dan upleft. Di bagian tengah dibagi menjadi rightcenter, center dan leftcenter. Dan bagian depan menjadi downright, downcenter dan downleft. (Referensi bagus tentang pembagian wilayah atau stage geography ini, lihat buku Play Production karangan Henning Nelms, terutama pasal VIII tentang Groupings dan pasal IX tentang Movement).
Dengan pembagian wilayah-wilayah ini diharapkan para aktor akan segera menganalisis arena permainan. Di sana aktor akan sadar tentang posisinya dan terus-menerus mengontrol dirinya: pertama, dalam hubungannya dengan aktor lainnya; kedua, relasi antara aktor dengan peralatan pentas; ketiga, posisinya dilihat dari pihak penonton; keempat, hubungannya dengan lampu, sebab system pencahayaan juga dibangun atas dasar pembagian wilayah pentas sebagai dasar yang kemudian dikembangkan sesuai dengan tuntutan sutradara. Juga penempatan peralatan pentas ditentukan dengan acuan pembabgian wilayah tersebut
(VI).
Dalam setiap naskah lakon (terutama lakon-lakon realis) ada nilai-nilai, yaitu nilai-nilai intelektual (yang mengemukakan ide-ide baru atau mempertahankan yang lama dalam bentuk yang lebih impresif); nilai-nilai emosional (nilai-nilai yang tidak membutuhkan pemahaman, tetapi dirasakan dan mungkin memerlukan ekspresi yangt mendetail dan halus) dan nilai-nilai abstrak (nilai-nilai yang memberikan rasa senang melalui keindahan, kehalusan atau hal-hal estetik lainnya). Nilai-nilai itu harus dapat diwujudkan ke dalam realitas pentas.
Salah satu cara mewujudkan nilai-nilai tersebut adalah dengan mengadakan penganalisaan dan penafsiran naskah. Dalam hal ini kita mengenal apa yang disebut struktur drama, yang konon berasal dari Aristotreles. Oscar G.Brockett memasukkannya ke dalam the basic characteristics dari the well-made play, yaitu: eksposisi situasi dan karakter yang jelas; persiapan-persiapan yang matang menuju peristiwa-peristiwa selanjutnya; titik balik yang tak terduga namun logis; ketegangan yang terus berlanjut dan makin memuncak; adanya apa yang disebut obligatory scene dan terakhir adanya resolusi yang logis dan dapat dipercaya. Semuanya diringkas sebagai berikut: ada eksposisi (pemaparan awal), ada komplikasi (penggawatan), klimaks, resolusi dan kongklusi.
Dengan demikian, sebuah naskah lakon (yang realis) haruslah complete and self-contained, sebuah alur ceritera yang padu; rangkaian peristiwa yang disusun atas dasar sebab-akibat.
Kembali pada Henning Nelms di mana ia menekankan kemampuan sutradara dalam mewujudkan nilai-nilai tersebut (Conveying Values) ke dalam realitas pentas. Dan sehubungan dengan struktur drama tersebut ia juga menganjurkan sutradara drama tersebut untuk mampu membuat the interest curve, grafik tentang alur ceritera dan grafik ini kita pergunakan sebagai patokan atau pedoman dalam latihan-latihan. Dengan kurve tersebut kita mempertahankan dan melanjutkan perhatian para penonton.
(VII).
Barangkali kita bisa menyimpulkan paparan kita di atas tentang apa maksud sebenarnya dari realisme dalam teater.itu. Pertama, mencoba menemukan the inner life dari setiap perwatakan atau tokoh-tokoh. Sebuah life, kehidupan yang berada di seberang sana, beyond the words in the play, atau yang ada di antara, between the words,atau malah bertentangan dengan kata-kata dalam naskah tersebut. Kedua, kita harus menemukan apa yang disebut dalam teks, inner texts, atau yang ada pada subtext untuk menambahkan suatu kekayaan yang kompleks pada actions, acting, pada nada suara, pada kata-kata (yang diucapkan). Ketiga, untuk menemukan ketepatan ekspresi tentang visi-visi manusia secara alamiah yang selama ini terjebak secara turun-temurun, dalam lingkungan sekitar, menjadi korban rangsangan-rangsangan dasariahnya. Kita berpendapat,kebisuan dalam kekejaman tercampur-aduk dalam diri manusia, mewarnai gerak-geriknya sehari-hari, terselurkan lewat nada-nada suara.
Keempat, berakting alamiah, jujur dan realistik. Kelima, hidup jujur di bawah (situasi) lingkungan yang imajiner dengan menghidupkan kebenaran tersebut, kadang-kadang berakting baik adalah yang bukan akting. Keenam, berjuang seobjektif mungkin dalam pekerjaan kita dan menolak melakukan distorsi pada kebenaran. Ketujuh, menjauhi atau menolak apa yang disebut historical subject matter dan pengidealisasian motif-motif dan tindakan-tindakan manusia.
Realisme mencoba merangsang bangkitnya kesadaran kecendekiawanan perteateran dan itulah sebabnya teater realis disebut juga the Theatre of Intelligent. Yang ingin ditemukan atau ditampakkan adalah apa yang disebut the essential-man, manusia yang esensiil, hal-hal yang mendasar. Ini adalah argumen besar dari teater modern, antara kaum naturalis atau realis dan kaum teatrikalis: di mana kebenaran (tentang) manusia itu berada. Pada permukaan, pada tingkah-laku orang-orang yang tampak pada kehidupan sehari-hari atau di balik topeng-topeng sosial yang dalam?
Kaum naturalis dalam mencari the essential man itu berjuang lewat replika detail-detail setiap hari, sementara kaum teatrikalis mencoba nmelakukan penetrasi pada topeng-topeng yang dipakai orang setiap hari. Richard Schechner (l994: 120) menyebut Stanislavski dan Brecht sebagai orang-orang naturalis, sementara Grotowski dan Artaud sebagai orang-orang teatrikalis.
Stanislavski---seorang aktor-direktor besar Rusia---memberikan suatu derajat pada kata aktor, suatu dignity,yang tak diperoleh sebelumnya. Ia membuat para aktornya sebagai orang-orang humanis dan psikologis, orang-orang yang memahami dan mengekspresikan perasaan-perasaannya, motif-motifnya , action dan strategi-strategi tingkah-laku manusia. Ia menolak aktor-aktor yang malas, bebal, yang suka mejeng, melacur yang hidupnya hanya untuk dikeploki orang atau penonton. Aktor harus menghidupkan hidupnya dalam seni---latihan-latihan dan disiplin yang ketat, selalu menguji dirinya, standar-standar etika yang tinggi, mengejar selera yang baik di atas dan di luar pentas.
Wasana kata, ada baiknya kita mencoba memahami the Great Initiatory Wheel yang tertera pada aklhir buku Schechner tersebut (halaman 318-319). Bila sebuah kelompok teater itu berhasil, katanya, maka kelompok itu telah membuat sebuah Great Initiatory Wheel: Personal memahami secara menyeluruh tentang siapa aku ini, suatu realisasi diri yang menuju ke Group (mencoba mencairkan batas-batas ego yang bukan cuma ekspresi seseorang, kreativitas kolektif) yang menuju ke Social,(memperlihatkan pada penonton kemungkinan-kemungkinan untuk menjadi suatu komunitas, adanya solidaritas) yang menuju ke Political (memperlihatkan pola-pola dalam sejarah apa yang terjadi pada orang-orang, kelas-kelas, bangsa, suatu kesadaran) yang menuju ke Metaphysical (untuk mendemonstrasikan bahwa manusia dapat menghasilkan evolusi mereka sendiri, perubahan-perubahan) yang nenuju (lagi) ke Personal .dan seterusnya dalam lingkaran yang makin menaik.
SENI TEATER
mulai melakukan interaksi satu sama lain. Interaksi itu juga
berlangsung bersamaan dengan tafsiran-tafsiran terhadap alam
semesta. Dengan demikian, pemaknaan-pemaknaan teater tidak jauh
berada dalam hubungan interaksi dan tafsiran-tafsiran antara manusia
dan alam semesta. Selain itu, sejarah seni teater pun diyakini berasal
dari usaha-usaha perburuan manusia primitif dalam mempertahankan
kehidupan mereka. Pada perburuan ini, mereka menirukan perilaku
binatang buruannya. Setelah selesai melakukan perburuan, mereka
mengadakan ritual atau upacara-upacara sebagai bentuk “rasa syukur”
mereka, dan “penghormatan” terhadap Sang Pencipta semesta. Ada
juga yang menyebutkan sejarah teater dimulai dari Mesir pada 4000
SM dengan upacara pemujaan dewa Dionisus. Tata cara upacara ini
kemudian dibakukan serta difestivalkan pada suatu tempat untuk
dipertunjukkan serta dihadiri oleh manusia yang lain.
The Theatre berasal dari kata Yunani Kuno, Theatron yang
berarti seeing place atau tempat menyaksikan atau tempat dimana
aktor mementaskan lakon dan orang-orang menontonnya. Sedangkan
istilah teater atau dalam bahasa Inggrisnya theatre mengacu kepada
aktivitas melakukan kegiatan dalam seni pertunjukan, kelompok yang
melakukan kegiatan itu dan seni pertunjukan itu sendiri. Namun
demikian, teater selalu dikaitkan dengan kata drama yang berasal dari
kata Yunani Kuno, Draomai yang berarti bertindak atau berbuat dan
Drame yang berasal dari kata Perancis yang diambil oleh Diderot dan
Beaumarchaid untuk menjelaskan lakon-lakon mereka tentang
kehidupan kelas menengah atau dalam istilah yang lebih ketat berarti
lakon serius yang menggarap satu masalah yang punya arti penting
tapi tidak bertujuan mengagungkan tragika. Kata drama juga dianggap
telah ada sejak era Mesir Kuno (4000-1580 SM), sebelum era Yunani
Kuno (800-277 SM). Hubungan kata teater dan drama bersandingan
sedemikian erat seiring dengan perlakuan terhadap teater yang
mempergunakan drama ’lebih identik sebagai teks atau naskah atau
lakon atau karya sastra.
Terlepas dari sejarah dan asal kata yang melatarbelakanginya,
seni teater merupakan suatu karya seni yang rumit dan kompleks,
sehingga sering disebut dengan collective art atau synthetic art artinya
teater merupakan sintesa dari berbagai disiplin seni yang melibatkan
berbagai macam keahlian dan keterampilan. Seni teater
menggabungkan unsur-unsur audio, visual, dan kinestetik (gerak) yang
meliputi bunyi, suara, musik, gerak serta seni rupa. Seni teater
merupakan suatu kesatuan seni yang diciptakan oleh penulis lakon,
sutradara, pemain (pemeran), penata artistik, pekerja teknik, dan
diproduksi oleh sekelompok orang produksi. Sebagai seni kolektif, seni
teater dilakukan bersama-sama yang mengharuskan semuanya
sejalan dan seirama serta perlu harmonisasi dari keseluruhan tim.
Pertunjukan ini merupakan proses seseorang atau sekelompok
manusia dalam rangka mencapai tujuan artistik secara bersama.
Dalam proses produksi artistik ini, ada sekelompok orang yang
mengkoordinasikan kegiatan (tim produksi). Kelompok ini yang
menggerakkan dan menyediakan fasilitas, teknik penggarapan, latihanlatihan,
dan alat-alat guna pencapaian ekspresi bersama. Hasil dari
proses ini dapat dinikmati oleh penyelenggara dan penonton. Bagi
xv
penyelenggara, hasil dari proses tersebut merupakan suatu kepuasan
tersendiri, sebagai ekspresi estetis, pengembangan profesi dan
penyaluran kreativitas, sedangkan bagi penonton, diharapkan dapat
diperoleh pengalaman batin atau perasaan atau juga bisa sebagai
media pembelajaran.
Melihat permasalahan di dalam teater yang begitu kompleks,
maka penulis mencoba membuat sebuah paparan pengetahuan teater
dari berbagai unsur. Paparan ini dimulai dari Bab I Pengetahuan
Teater yang berisi tentang definisi teater baik secara keseluruhan
maupun secara detail, sejarah singkat perkembangan teater baik
sejarah singkat teater Eropa maupun sejarah singkat teater Indonesia,
dan unsur-unsur pembentuk teater. Bab ini sangat penting karena
untuk mendasari pemikiran dan pengetahuan tentang seni teater.
Bab II Lakon yang berisi tentang tipe-tipe lakon, tema, plot,
struktur dramatik lakon, setting, dan penokohan. Dalam bab ini
pembahasan lebih banyak pada analisis elemen lakon sebagai
persiapan produksi seni teater. Sesederhana apa pun sebuah naskah
lakon, diperlukan sebagai pedoman pengembangan laku di atas
pentas. Pemilihan lakon yang akan disajikan dalam pementasan
merupakan tugas yang sangat penting. Tidak sembarang lakon akan
sesuai dan baik jika dipentaskan. Sulitnya tugas ini disebabkan oleh
karena setiap kelompok teater memiliki ciri khas masing-masing.
Sebuah lakon yang dipentaskan dengan baik oleh satu kelompok
teater, belum tentu akan menjadi baik pula jika dipentaskan oleh
kelompok lainnya.
Bab III Penyutradaraan yang berisi tentang penentuan lakon
yang akan dipentaskan, analisis lakon secara menyeluruh hingga
sampai tahap konsep pementasan, menentukan bentuk pementasan,
memilih pemain, membuat rancangan blocking, serta latihan-latihan
hingga gladi bersih. Kerja penyutradaan dalam sebuah pementasan
merupakan kerja perancangan. Seorang sutradara harus bisa memberi
motivasi dan semangat kebersamaan dalam kelompok untuk
menyatukan visi dan misi pementasan antar mereka yang terlibat.
Kerja penyutradaraan merupakan kegiatan perancangan panggung
dapat berupa penciptaan estetika panggung maupun ekspresi
eksperimental.
Bab IV Pemeranan yang berisi tentang persiapan seorang
pemeran dalam sebuah pementasan seni teater. Persiapan tersebut
meliputi persiapan olah tubuh, olah suara, penghayatan karakter serta
teknik-teknik pemeranan. Persiapan seorang pemeran dianggap
penting karena pemeran adalah seorang seniman yang
mengekspresikan dirinya sesuai dengan tuntutan baru dan harus
memiliki kemampuan untuk menjadi ’orang baru’. Pemeran
didefinisikan pula sebagai tulang punggung pementasan, karena
dengan pemeran yang baik, tepat, dan berpengalaman akan
menghasilkan pementasan yang bermutu. Pementasan bermutu
adalah pementasan yang secara ideal mampu menterjemahkan isi
naskah. Walaupun di lain pihak masih ada sutradara yang akan melatih
dan mengarahkan pemeran sebelum pentas, tetapi setelah di atas
panggung tanggungjawab itu sepenuhnya milik pemeran.
Bab V Tata Artistik yang berisi tentang teori dan praktek tata
artistik yang meliputi; tata rias, tata busana, tata cahaya, tata
panggung, dan tata suara. Sebagai komponen pendukung pokok,
xvi
keberadaan tata artistik dalam pementasan teater sangatlah vital.
Tanpa pengetahuan dasar artistik seorang sutradara atau pemain
teater tidak akan mampu menampilkan kemampuannya dengan baik.
Persesuaian dengan tata artistik yang menghasilkan wujud nyata
keindahan tampilan di atas pentas adalah pilihan wajib bagi para
pelaku seni teater.
Bahasan yang penulis pilih dalam setiap bab merupakan
pengetahuan dan praktek mendasar proses penciptaan seni teater.
Artinya, sebuah pertunjukan teater yang berlangsung di atas panggung
membutuhkan proses garap yang lama mulai dari (penentuan) lakon,
penyutradaraan, pemeranan, dan proses penataan artistik. Dalam
setiap tahapan proses ini melibatkan banyak orang (pendukung) dari
berbagai bidang sehingga dengan memahami tugas dan tanggung
jawab masing-masing maka kerja penciptaan teater akan padu.
Kualitas kerja setiap bidang akan menjadi harmonis jika masingmasing
dapat bekerja secara bersama dan bekerja bersama akan
berhasil dengan baik jika semua elemen memahami tugas dan
tanggung jawabnya. Itulah inti dari proes penciptaan seni teater, “kerja
sama”.
Istilah-istilah dalam bidang Seni Teater, kamus teater
Adegan : Bagian dari babak yang menggambarkan satu suasana dari beberapa suasana dalam babak
Additive Mixing : Pencampuran warna pada objek yang disinari dari dua atau lebih lampu yang berbeda
Akting : Tingkah laku yang dilakukan pemain sebagai wujud penghayatan peran yang dimainkan
Aktor : orang yang melakukan akting
Amphiteater : Panggung pertunjukan jaman Yunani Kuno
Amplifikasi : Penguatan energi listrik setelah melalui rangkaian elektronik
Apron : Daerah yang terletak di depan layar atau persis di depan bingkai proscenium
Arena : Salah satu bentuk panggung yang tidak dibatasi oleh konvensi empat dinding imajiner
Artikulasi : Hubungan antara apa yang dikatakan dan bagaimana mengatakanya, dan dipengaruhi oleh penguasaan organ produksi suara
Aside : Dialog menyamping, atau suara hati dan pikiran tokoh
Atmosfir : Isitlah teater untuk menyebutkan suasana atau kondisi lingkungan
Audibility : Segala sesuatu yang berkaitan dengan pendengaran
Auditorium : Ruang tempat duduk penonton dalam panggung proscenium
Backdrop : Layar paling belakang. Kain yang dapat digulung atau diturun-naikkan dan membentuk latar belakang panggung
Bahasa tubuh : Bahasa yang ditimbulkan oleh isyarat-isyarat dan ekspresi tubuh
Bar : Pipa bisa yang digunakan sebagai baris untuk pemasangan lampu
Barndoor : Sirip empat sisi yang diletakkan pada lampu dan digunakan untuk mebatasi lebar sinar cahaya
Batten : (1) Lampu flood yang dirangkai dalam satu kompartemen (wadah). (2) Perlengkapan panggung yang dapat digunakan untuk mengaitkan sesuatu dan dapat dipindahpindahkan
Beats : Satu kesatuan arti terkecil dari dialog
Belly to Belly : Dua lensa yang dipasang berhadapan dalam sebuah lampu dan jaraknya bisa diatur
Bifocal : Lampu Bifocal adalah lampu profile standar yang ditambahi dengan shutter tambahan
Blocking : Gerak dan perpindahan pemain dari satu area ke area lain di panggung
Boom : Baris lampu yang dipasang secara vertikal
Border : Pembatas yang terbuat dari kain. Dapat dinaikkan dan diturunkan. Fungsinya untuk memberikan batasan area permainan yang digunakan
Bracket : Pengait untuk memasang lampu pada boom. Disebut pula sebagai boom arm
Catwalk : Permukaan, papan atau jembatan yang dibuat di atas panggung yang dapat menghubungkan sisi satu ke sisi lain
Clamp : Klem atau pengait untuk memasang lampu pada bar, disebut juga sebagai C-clamp atau Hook Clamp
Control Balance : Pengaturan tingkat kekerasan suatu sumber suara terhadap sumber suara yang lain
Control Desk : Disebut juga Remote Control, alat untuk mengatur tinggi rendahnya intensitas cahaya dari jarak jauh
Cyc Light : Lampu flood yang dikhususkan untuk menerangi layar belakang (siklorama)
Denotasi : Arti yang sebenarnya sesuai dengan arti yang terdapat dalam kamus
Dialog : Percakapan para pemain.
Diafragma : Sekat yang memisahkan antara rongga dada dan rongga perut
Diffuse : Jenis refleksi cahaya yang memiliki pantulan merata serta panjang sinarnya sama
Diftong : Kombinasi dua huruf vokal dan diucapkan bersamaan
Diksi : Latihan mengeja kata dengan suara keras dan jelas
Dimmer : Alat pengatur tinggi rendahnya intensitas cahaya
Distorsi : Hasil rekaman suara melebihi standar batas maksimal yang ditentukan
Donut : Pelat metal yang digunakan untuk meningkatkan ketajaman lingkar sinar cahaya yang dihasilkan oleh lampu spot
Drama : Salah satu jenis lakon serius dan berisi kisah kehidupan manusia yang memiliki konflik yang rumit dan penuh daya emosi tetapi tidak mengagungkan sifat tragedi
Dramatic Irony : Aksi seorang tokoh yang berkata atau bertindak sesuatu, dimana tanpa disadari akan menimpa dirinya sendiri
Ekstensi : Menambah besarnya sudut antara dua bagian badan
Eksposisi : Penggambaran awal dari sebuah lakon, berisi tentang perkenalan karakter, dan masalah yang akan digulirkan
Elastisitas : Tingkat kekenyalan suatu objek sehingga dengan mudah bisa diterapkan atau digunakan
Ellipsoidal : Jenis reflektor yang memiliki bentuk elips
Emosi : Proses fisik dan psikis yang kompleks yang bisa muncul secara tiba-tiba dan spontan atau diluar kesadaran
Ephemeral : Sifat pertunjukan yang bermula pada suatu malam dan berakhir pada malam yang sama
ERS : Elliposoidal Reflector Spotlight. Lampu spot yang menggunakan reflektor berbentuk elips disebut juga lampu profile atau leko
ERS Axial : Lampu ERS yang bohlamnya dipasang secara horisontal
ERS Radial : Lampu ERS yang bohlamnya dipasang miring 45 derajat
Farce : Seni pertunjukan yang menyerupai dagelan tetapi bukan dagelan yang seperti di Indonesia
Filter : Palstik atau mika berwarna untuk mengubah warna lampu
Flashback : Kilas balik peristiwa lampau yang dikisahkan kembali pada saat ini
Flat Karakter : Karakter tokoh yang ditulis oleh penulis lakon secara datar dan biasanya bersifat hitam putih
Fleksi (flexion) : Membengkokkan suatu sendi untuk mengurangi sudut antara dua bagian badan
Fleksibelitas : Daya lentur suatu objek / tingkat kelenturan suatu objek
Flies : Disebut juga penutup. Bagian atas rumah panggung yang dapat digunakan untuk menggantung set dekor serta menangani peralatan tata cahaya
Floodligth : Jenis lampu yang sinar cahayanya menyebar serta tidak bisa diatur fokusnya
Focal Point : Titik temu (pusat) pendar cahaya
FOH : Front Of House. Bagian depan baris kursi penonton dimana di atasnya terdapat pipa baris lampu
Fokus : (1) Istilah dalam penyutradaraan untuk menonjolkan adegan atau permainan aktor. (2) Istilah tata cahaya untuk area yang disinari cahaya dengan tepat dan jelas
Follow Spot : Jenis lampu spot yang dapat dikendalikan secara manual untuk mengikuti arah gerak pemain
Fore Shadowing : Bayang-bayang yang mendahului sebuah peristiwa yang sesungguhnya itu terjadi
Foyer : Ruang tunggu penonton sebelum pertunjukan dimulai atau saat istirahat
Frequency Respon : Kemampuan dalam menangkap frekuensi pada batas maksimum dan minimum
Fresnel : (1) Lensa yang mukanya bergerigi. (2) Jenis lampu yang menggunakan lensa bergerigi
Gesture : sikap tubuh yang memiliki makna, bisa juga diartikan dengan gerak tubuh sebagai isyarat
Gestus : Aksi atau ucapan tokoh utama yang beritikad tentang sesuatu persoalan yang menimbulkan pertentangan atau konflik antar tokoh
Gimmick : Adegan awal dari sebuah lakon yang berfungsi sebagai pemikat minat penonton untuk menyaksikan kelanjutan dari lakon tersebut
Globe : Panggung yang tempat duduk penontonnya berkeliling, digunakan dalam pementasan teater jaman Elizabeth di Inggris
Gobo : Pelat metal yang dicetak membentuk pola atau motif tertentu dan digunakan untuk membuat lukisan sinar cahaya
Groundrow : Lampu flood yang diletakkan di bawah untuk menerangi aktor atau siklorama dari bawah
Imajinasi : Proses pembentukan gambaran-gambaran baru dalam pikiran, dimana gambaran tersebut tidak pernah dialami sebelumnya atau mungkin hanya sedikit yang dialaminya
Improvisasi : Gerakkan dan ucapan yang tidak terencana untuk menghidupkan permainan.
Intonasi : Nada suara (dalam bahasa jawa disebut langgam), irama bicara, atau alunan nada dalam melafalkan kata-kata, sehingga tidak datar atau tidak monoton.
Insersio : Kearah mana otot itu berjalan atau arah jalannya otot yang bergerak.
Irama : Gelombang naik turun, longgar kencangnya gerakkan atau suara yang berjalan dengan teratur
Iris : Piranti untuk memperbesar atau memperkecil diameter lingkaran sinar cahaya yang dihasilkan oleh lampu
Jeda : Pemenggalan kalimat dengan maksud untuk memberi tekanan pada kata.
Karakter : Gambaran tokoh peran yang diciptakan oleh penulis lakon melalui keseluruhan ciri-ciri jiwa dan raga seorang peran
Karakter Teatrikal: Karakter tokoh yang tidak wajar, unik, dan lebih bersifat simbolis.
Kolokasi : Asosiasi kata dengan bahasa yang tidak formal, bahasa percakapan sehari-hari pada suatu tempat dan masa tertentu.
Komedi : salah satu jenis lakon yang mengungkapkan cacat dan kelemahan sifat manusia dengan cara yang lucu, sehingga para penonton bisa lebih menghayati kenyataan hidupnya
Komedi Stamboel : Pertunjukan teater yang mendapat pengaruh dari Turki dan sangat populer di Indonesia pada jaman sebelum kemerdekaan
Komunikan : Penerima komunikasi
Komunikator : Penyampai kamunikasi
Konflik : Ketegangan yang muncul dalam lakon akibat adanya karakter yang bertentangan, baik dengan dirinya sendiri maupun yang ada di luar dirinya.
Konotasi : Arti kata yang bukan sebenarnya dan lebih dipengaruhi oleh konteks kata tersebut dalam kalimat.
Konsentrasi : Kesanggupan atau kemampuan yang diperlukan untuk mengerah kan pikiran dan kekuatan batin yang ditujukan ke suatu sasaran tertentu sehingga dapat menguasai diri dengan baik.
Lakon : Penuangan ide cerita penulis menjadi alur cerita yang berisi peristiwa yang saling mengait dan tokoh atau peran yang terlibat, disebut juga naskah cerita
Lakon Satir : Salah satu jenis lakon yang mengemas kebodohan, perlakuan kejam, kelemahan seseorang untuk mengecam, mengejek bahkan menertawakan suatu keadaan dengan maksud membawa sebuah perbaikan
Latar Peristiwa : Peristiwa yang melatari adegan itu terjadi dan bisa juga yang melatari lakon itu terjadi
Latar Tempat : Tempat yang menjadi latar peristiwa lakon itu terjadi.
Latar Waktu : Waktu yang menjadi latar belakang peristiwa, adegan, dan babak itu terjadi
Level : (1) Istilah pemeranan dan penyutradraan untuk mengatur tinggi rendah pemain. (2) Isitilah tata suara untuk tingkat ukuran besar kecilnya suara yang terdengar
Lever : Bilah yang dapat dinaikkan dan diturunkan yang terdapat pada control desk
Ligamen : Jaringan ikat yang menghubungkan otot dengan tulang atau pembungkus sendi.
Melodrama : Salah satu jenis lakon yang isinya mengupas suka duka kehidupan dengan cara yang menimbulkan rasa haru kepada penonton
Membran : Selaput atau lapisan tipis yang sangat peka terhadap getaran
Metacarpal : Disebut juga dengan metatarsus atau ossa metatarsalia yaitu tulang pertama dari jari
Mime : Pertunjukan teater yang menitikberatkan pada seni ekspresi wajah pemain
Mimetic/mimesis : Peniruan atau meniru sesuatu yang ada
Mimik : Ekspresi gerak wajah untuk menunjukkan emosi yang dialami pemain
Mixed : Jenis refleksi cahaya yang hasilnya bercampur antara relfeksi diffuse dan specular
Monolog : Cakapan panjang seorang aktor yang diucapkan di hadapan aktor lain
Noise : Gangguan suara yang tidak diinginkan dalam memproses suara atau rekaman
Observasi : Kegiatan mengamati yang bertujuan menangkap atau merekam hal apa saja yang terjadi dalam kehidupan
Orchestra Pit : Tempat para musisi orkestra bermain
Origio : Tempat otot timbul atau tempat asal otot yang terkuat
Pageant : Panggung kereta abad Pertengahan yang digunakan untuk mementaskan teater secara berkeliling
Panoramic : Kesan suara yang terdengar pada telinga kiri atau telinga kanan
Pantomimik : Ekspresi gerak tubuh untuk menunjukkan emosi yang dialami pemain
PAR : Parabolic Aluminized Reflector. Lampu yang menggunkan reflektor parabola terangkai dalam satu unit dengan lensanya
Parafrase : Latihan untuk menyatakan kembali arti dialog dengan menggunakan kata-kata kita sendiri, dengan tujuan untuk membuat jelas dialog tersebut
PC : (1) Planno Convex, jenis lensa yang permukaannya halus. (2) Jenis lampu yang menggunakan lensa tunggal baik lensa Planno Convex atau Pebble Convex
Pebble Convex : Jenis lensa yang mukanya halus tapi bagian belakangnya bergerigi
Pemanasan : Serial dari latihan gerakan tubuh dimaksudkan untuk meningkatkan sirkulasi dan meregangkan otot dengan cara progresif (bertahap).
Pemeran : Seorang seniman yang menciptakan peran yang digariskan oleh penulis naskah, sutradara, dan dirinya sendiri.
Penonton : Orang yang hadir untuk menyaksikan pertunjukan teater
Pernafasan : Peristiwa menghirup udara dari luar yang mengandung oksigen ke dalam tubuh serta menghembuskan udara yang banyak mengandung karbondioksida
Pita magnetic : Pita plastic yang dilapisi oleh serbuk magnet yang digunakan untuk menyimpan getaran listrik
Planno Convex : Jenis lensa (lih. PC)
Plot : Biasa disebut dengan alur adalah kontruksi atau bagan atau skema atau pola dari peristiwa-peristiwa dalam lakon, puisi atau prosa dan selanjutnya bentuk peristiwa dan perwatakan itu menyebabkan pembaca atau penonton tegang dan ingin tahu
Polarity : Kemampuan maksimum dalam menangkap sumber suara
Practical : Lampu sehari-hari atau lampu rumahan yang digunakan di atas panggung
Preset : Pengaturan intensitas cahaya pada control desk disaat lampu dalam keadaan mati (tidak dinyalakan)
Profile : Jenis lampu spot yang dapat ukuran dan bentuk sinarnya dapat disesuaikan
Properti : Benda atau pakaian yang digunakan untuk mendukung dan menguatkan akting pemeran.
Protagonis : Peran utama yang merupakan pusat atau sentral dari cerita
Proscenium : Bentuk panggung berbingkai
Proscenium Arc : Lengkung atau bingkai proscenium
Resonansi : Bergema atau bergaung
Rias Fantasi : Tata rias yang diterapkan untuk menggambarkan sifat atau karakter yang imajinatif
Rias Karakter : Tata rias yang diterapkan untuk menegaskan gambaran karakter tokoh peran
Rias Korektif : Tata rias yang diterapkan untuk memperbaiki kekurangan sehingga pemain nampak cantik
Ritme : Tempo atau cepat lambatnya dialog akibat variasi penekanan kata-kata yang penting.
Round Karakter : Karakter tokoh dalam lakon yang mengalami perubahan dan perkembangan baik secara kepribadian maupun status sosialnya
Scoop : Jenis lampu flood yang menggunakan reflektor ellipsoidal
Sendi : Hubugan yang terbentuk antara dua tulang.
Sendratari : Pertunjukan drama yang di tarikan atau gabungan seni drama dan seni tari
Side Wing : Bagian kanan dan kiri panggung yang tersem bunyi dari penonton, biasanya digunakan para aktor menunggu giliran sesaat sebelum tampil
Skeneri : Dekorasi yang mendukung dan menguatkan suasana permainan
Skenario : Susunan lakon yang diperagakan oleh pemeran
Soliloki : Cakapan panjang aktor yang diucapkan seorang diri dan kepada diri sendiri
Specular :Jenis refleksi yang memantulkan cahaya seperti aslinya (efek cermin)
Snoot : Disebut juga Top Hat, piranti yang digunakan untuk mengurangi tumpahan cahaya
Spherical : Jenis reflektor yang memiliki bentuk setengah lingkaran
Spread : Jensi refleksi cahaya yang mengenai objek dengan intensitas lebih tinggi garis cahayanya akan memendar dan direfleksikan lebih panjang dari yang lain
Stand : Pipa untuk memasang lampu yang dapat berdiri sendiri
Struktur Dramatik : Rangkaian alur cerita yang saling bersinambung dari awal cerita sampai akhir.
Suara Nasal : Suara yang dihasilkan oleh rongga hidung karena udara beresonansi.
Suara Oral : Suara yang dihasilkan oleh mulut
Subtractive Mixing: Pencampuran warna cahaya yang dihasilkan dari dua filter berbeda
Surprise : Peristiwa yang terjadi diluar dugaan penonton sebelumnya dan memancing perasaan dan pikiran penonton agar menimbulkan dugaan-dugaan yang tidak pasti.
Sutradara : Orang yang mengatur dan memimpin dalam sebuah permainan.
Teknik Muncul : Suatu teknik seorang pemeran dalam memainkan peran untuk pertama kali memasuki sebuah pentas lakon.
Teknik Timing : Teknik ketepatan waktu antara aksi tubuh dan aksi ucapan atau ketepatan antara gerak tubuh dengan dialog yang diucapkan.
Tema : Ide dasar, gagasan atau pesan yang ada dalam naskah lakon dan ini menentukan arah jalannya cerita.
Tempo : Cepat lambatnya suatu ucapan yang kita lakukan
Thrust : Bentuk panggung yang sepertiga bagiannya menjorok ke depan
Timbre : Warna suara yang memberi kesan pada kata-kata yang kita ucapkan
Tirai Besi : Satu tirai khsusus yang dibuat dari logam untuk memisahkan bagian panggung dan kursi penonton. Digunakan bila terjadi kebakaran di atas panggung, tirai ini diturunkan sehingga api tidak menjalar keluar dan penonton bisa segera dievakuasi.
Tragedi : Salah satu jenis lakon yang meniru sebuah aksi yang sempurna dari seorang tokoh besar dengan menggunakan bahasa yang menyenangkan supaya para penonton merasa belas kasihan dan ngeri sehingga penonton mengalami pencucian jiwa atau mencapai katarsis
Trapezium : Tulang yang ada pada antara pergelangan tangan dan ibu jari tangan
Trap Jungkit : Area permainan atau panggung yang biasanya bisa dibuka dan ditutup untuk keluar-masuk pemain dari bawah panggung.
Wicara : Cara kita berbicara dan cara mengucapkan sebuah dialog dalam naskah lakon
Under : (tata suara) Hasil rekaman suara yang sangat lemah