Showing posts with label Seni rupa. Show all posts
Showing posts with label Seni rupa. Show all posts

Seni rupa

seni rupa



Seni rupa adalah cabang seni yang membentuk karya seni dengan media yang bisa ditangkap mata dan dirasakan dengan rabaan. Kesan ini diciptakan dengan mengolah konsep garis, bidang, bentuk, volume, warna, tekstur, dan pencahayaan dengan acuan estetika.
Seni rupa dibedakan ke dalam tiga kategori, yaitu seni rupa murni, kriya, dan desain. Seni rupa murni mengacu kepada karya-karya yang hanya untuk tujuan pemuasan eksresi pribadi, sementara kriya dan desain lebih menitikberatkan fungsi dan kemudahan produksi.
Secara kasar terjemahan seni rupa di dalam Bahasa Inggris adalah fine art. Namun sesuai perkembangan dunia seni modern, istilah fine art menjadi lebih spesifik kepada pengertian seni rupa murni untuk kemudian menggabungkannya dengan desain dan kriya ke dalam bahasan visual arts.

FROZEN EMOTIONAL ATTITUDE TEREXPRESSI PADA KREASI PARA SENIMAN YANG BERMADHAB “ESTETISME”

A B S T R A K

Lord Brain[1] menandaskan bahwa manusia yang tak memperhatikan lagi segi-segi moral dan spiritual dari kehidupannya karena terlampau mementingkan kehidupan lahiriah saja, merupakan manusia yang dihinggapi penyakit yang ia sebut “Frozen Emotional Attitude”. Mereka semua memerlukan re-edukasi emosional. Lantas bagaimanakah caranya memberi mereka re-edukasi emosional tersebut? Jaques Barzun[2] menandaskan: “Restore God to the fullness of His Reality”.

Sikap batin yang beku tersebut sering melanda para seniman yang di puncak menara gading kesenimannya, secara eksklussif berkoar-koar mengatakan dengan angkuhnya bahwa seni cumalah untuk seni semata! Seni untuk kenikmatan diniawi semata! Mereka nyaris memberhalakan nilai-nilai estetis, dari mulai kaidah-kaidah estetik yang dibakukan oleh segelintir pemikir seni seperti Golden Section misalnya, hingga faham Estetisme yang menghalalkan segala cara berkesenian, kendatipun jelas-jelas melanggar norma-norma keagamaan yang dipeluknya!

Tulisan ini sekedar penggambaran kembali, betapa seni, dalam hal ini khususnya seni rupa, lewat berbagai coraknya, telah mengalami perjalalan cukup panjang tatkala meronta-ronta ingin menjumpai sesuatu nilai keadiluhungan, namun pencapaian religiositas keadiluhungan transendentalnya masih perlu dipertanyakan!

Sejak Golen Section[3] mencanangkan suatu doktrin keindahan yang membakukan bahwa bidang lima berbanding delapanlah (5:8 bagi lebar dan tinggi) yang dinilai paling estetis, maka para seniman di saat itu mulai tidur lelap dalam stagnasi kreativitasnya. Mereka tertipu mentah-mentah oleh apa yang disebut pemaksaan citra rasa yang digaung-gaungkan oleh kepongahan kelompok seniman eksklusif yang merasa memiliki legitimasi mutlak di dalam memberikan penilaian final bagi keindahan-keindahan yang rupawi. Golden Section yang diinspirasi oleh kaidah-kaidah matematik pada konstruksi piramid di negeri Cleopatra (Mesir Kuno), ternyata telah berjaya selama dua abad lebih di dalam menularkan citra estetis yang seragam namun sempit, ke dalam dunia seni rupa yang masih terpukau oleh hal-hal yang spektakuler formal; dalam artian bahwa, yang dianggap estetis oleh orang-orang tingkat atas, secara otomatis akan menjadi patokan rasa seni bagi orang-orang di tingkat bawah.

Golden section (kesetangkupan keemasan) tersebut sempat dikategorikan ke dalam bentuk estetis matematis oleh sebahagian pengamat seni yang cuma memberikan nafas lega bagi citra keindahan yang obyektif arsitektural. Padahal, bukankah seni merupakan manifestasi dari getar batin manusia yang ragam penuangannya tak mungkin dibatasi oleh takaran-takaran ruang dan waktu (termasuk proporsi bentuk dan anatomi), atau dibatasi oleh “kemestian” media dan keniscayaan teknik? Atau dalam gaya bahasa langit, bukankah seni merupakan rotasi-rotasi getar haru manusia yang diorbitkan lewat berbagai falak kreativita, yang tak puas-puasnya bergerak dan berkembang ke segala arah?

Proporsi bidang segi empat yang tinggi dan lebarnya 2:3 atau 3:5 atau 5:8 tak mungkin disetarakan dengan indahnya lengkungan pelangi di langit sore yang mempesona bagi setiap orang yang memandangnya. Perbandingan ukuran bendawi tersebut cuma sebuah alternatif saja dari jutaan alternatif yang menggenahkan perasaan manusia, sebagaimana halnya yang satu menyukai warna biru namun orang lain menyukai warna merah, dsb. Walaupun pada kenyataannya, bangunan Parthenon yang menurut kabar burung tataan arsitekturalnya menggunakan Golden Section, nyaris dikagumi setiap orang. Namun itu kan cuma kekaguman pada kedahsyatan benda-benda bersejarah saja, sebagaimana halnya tatkala kita mengagumi candi Borobudur dan Prambanan!

Seni adalah unik! Tatkala Basuki Abdullah lewat visi estetiknya melukiskan seorang wanita cantik yang dipercantik lagi seribu kali, sebaliknya Affandi yang telah tua renta gayeng-gayeng saja melukiskan seorang peminta-minta yang berkaki kudisan dalam kekumuhan suasana apa adanya, dengan teknik plototan catnya yang spontan dan sama-sekali tak cantik dan tak bernilai estetis. Basuki tak mungkin


Basuki Abdullah yang berjiwa romantis, melukis kuda pun menjadi cantik, apa lagi jika ia melukis obyek figur wanita. Kesan beauty tersirat dari perindahan bentuk dan pemilihan warna yang cemerlang. Keindahan pada sebahagian besar lukisan Basuki Abdullah merupakan keindahan yang estetis obyektif ringan yang terkadang hampa dari pendalaman ekspresi. Judul lukisan “Keluarga berencana”, dengan teknik cat minyak di atas kanvas.

memaksa perupa lain agar melukis seromatis gaya naturalistiknya, sebaliknya Affandi pun tak mungkin ingkar dari visi kesenirupaannya yang ekspressif transendental, yang senantiasa khusuk mengadakan penggalian artistik ke dalam kenyataan hidup manusia-manusia kecil dan papa. Tatkala seorang Basuki Abdullah dengan mengenakan topi baret dan safari mahal berlengan pendek tengah asyik-asyiknya melukis nyonya mentri yang pipinya moleg berkebaya brokat seharga ratusan ribu rupiah di kota metropolitan, nun jauh di sana di kota gudeg, seorang maestro seni rupa Indonesia bernama Affandi, dengan beralaskan sehelai tikar compang-camping tengah melukis seorang wanita tua renta yang susunya peot, dengan mengenakan sarung poleng dan kaos oblong yang telah kumal. Mereka berdua merupakan manusia beda yang visi berkeseniannya pun amat berbeda. Begitu pula alangkah berbeda dengan Rembrandt van Rijn yang gemar mengemphasiskan “cahaya jendela” pada kanvas-kanvasnya, atau dengan Pablo Picasso yang doyan mengacak-ngacak anggota tubuh model-modelnya. Ternyata modal fitriyah, visi dan pewedaran batin manusia yang berbeda satu sama lain, telah memungkinkan munculnya berbagai madhab (aliran) yang sama sekali tak setangkup.


Affandi melukis kuda tidak dicantik-cantikan. Namun lebih menekankan pada pewedaran ekspressi dari binatang kuda itu sendiri. Goresan-goresan plototan catnya yang spontan dan dinamis dengan warna-warna yang terbatas, menjelmakan di atas kanvas sebuah lukisan dari kuda binal yang amat gamblang menghadirkan typering primernya. Judul lukisan “Kuda Putih”.

Estetisme yang jorok

Namun perbedaan visi dalam bersenirupa di kawasan bumi yang penuh dengan kechaosan batin ini, telah memunculkan seni riskan yang niscaya pula membikin tatanan rupa yang chaotik. Pengaruh Victor Cousin dengan doktrin estetisme-nya nyaris menjerumuskan para pelukis bebas ke kubangan a-moral dengan dalih seni demi seni. Pelampiasan ekspressi berkesenian telah disalahgunakan oleh beberapa “oknum” perupa yang tak lagi menggubris batas-batas moral, lebih-lebih lagi agama. Seni rupa nyaris merupakan keasyikan sanggama bebas yang tak pantas tampil di hadapan masyarakat bermoral, sebagaimana bisa kita lihat pada karya- karya Max Beckmann1 berjudul Ville de laiton yang dibikin tahun 1944 dan Triptyque de Persee yang dibikin tahun 1941. Kendati judulnya berbeda, kedua lukisan tersebut lebih pantas disebut sekedar pelampiasan obsesi sexsualistik belaka dari seorang perupa yang kecewa dengan ”serba larang” terhadap kebebasan berekspressi. Pisau pembunuh yang tajam teremphasis dilatarbelakangi wanita bugil dalam pose yang jorok. Dari kedua lukisan yang dipajang di Saarland Museum di Sarrebruck dan Museum Folkwang di Essen tersebut terpancar kekumuhan piktura yang penuh misteri yang terlampau riskan jika dinikmati oleh para appresiator timur yang memiliki kehalusan budi.

Faham estetisme sempat membikin kejutan di sekitar tahun delapanbelasan tatkala Carl Hofer membikin lukisan jorok yang berjudul Couple. Lukisan tersebut mempertontonkan dua sejoli telanjang bulat yang tengah melampiaskan birahi. Dan setahun kemudian seniman Emil Nolde pun membikin adegan yang sama pada lukisannya yang berjudul Le reveur2, yang melukiskan wanita telanjang bulat yang tengah merayu lelaki yang berbusana lengkap. Lantas tigapulussatu tahun kemudian Marc Chagall pun dengan gaya surialistiknya membikin lukisan estetismenya yang ia juduli Les ponts de la Seine.

Dan, estetisme yang berkesan “brutal” tersebut telah pula berjangkit di kalangan para senirupawan timur termasuk Indonesia. Wanita telanjang bulat dijadikan obyek lukis yang cukup merangsang di tahun lima puluhan hingga enampuluhan. Rasanya belum tabah disebut pelukis jika belum mahir melukis Nude. Doktrin “seni untuk seni” begitu mewabah di saat itu, sehingga nyaris menyisihkan nilai-nilai akhlak dan moral manusia timur. Nilai estetis yang dipancarkan oleh sebuah lukisan wanita bugil karya Amedeo Modigliani yang dijuduli Nu feminin3 yang dilukis tahun 1917, benar-benar telah merasuk ke kalangan senirupawan Indonesia yang mulai dipengaruhi ageman estetisme, sehingga terlukislah di atas kanvas berbagai bentuk deformasi figur telanjang yang diinspirasi oleh Nu feminin tersebut. Selain Nu femini, muncul pula judul Deux nus feminis yang dilukis oleh Edvard Munich, kendati tak sepopuler Nu feminin tersebut, bahkan pengaruh nilai estetik plastikismenya masih jauh dikalahkan oleh lukisan nudenya Alexei von. Jawlensky yang dijuluki Nu assis yang dibikin tujuh tahun lebih awal dari Nu feminin yang menggebrak dunia estetisme di barat maupun di belahan timur.

Bagi para perupa komersil sebagaimana Basuki Abdullah ataupun Saptohudoyo misalnya, lukisan wanita bugil karya Edvard Munich berjudul Madone4 yang dibikin tahun 1894 yang menghadirkan postur erotisisme, paling tidak, telah memberikan pengaruh besar ketimbang lukisan bugil yang berjudul Nus sous les arbres karya Franz Marc yang dibikin tahun 1911 dan bergaya impressionistik atau Nu debout sous les arbres karya perupa Otto Mueller yang dilukis tahun 1915.

Estetisme nudistik muncul pula di era dadais di antaranya terlihat pada karya Francis Picabia, kendati dadaisme sendiri – dalam ulah pemberontakannya – tak terlampau mengekspose keindahan yang estetis semata-mata, namun lebih cendrung menggaungkan visi keindahan yang lebih transendental non estetis, yang dimanifestasikan lewat simbol-simbol ataupun metafor-metafor yang menyatire kehidupan seni maupun sosial yang dianggap terlampau stagnan dalam pengembangan kreativitanya.

Pelukisan-pelukisan bugil dari figur wanita maupun pria di zaman kontemporer tak ayal lagi telah banyak dipengaruhi oleh karya-karya rupa pada zaman Baroque dan Seni Rococo seputar tahun 1600 hingga 1800, di antaranya sebuah patung monumental karya Lorenzo Bernini (1599-1680) yang dijuduli The Rape of Proserpina5. Lantas patung karya Claude Michel yang berjudul The Intoxication Wine yang dibikin dari bahan tera-cotta dan dipajang di Museum of Art.

Seni rupa modern Eropa telah banyak menmunculkan karya-karya nude dalam berbagai teknik seperti cukilan kayunya Aristade Maillol (186101944) yang berjudul Dalphnis and Chloe, lithographynya Picasso yang berjudul Nude Seated, lantas etsanya Ander Leonard Zorn (1860-1920) yang berjudul Wet, dsb. Dan semuanya masih bergelut dalam takaran keindahan yang esteis.

Visi Transendental dalam Seni Rupa

Visi transendental dalam seni rupa tak lagi terlampau menggubris elemen-elemen estetis semacam harmoni warna-warna, keserasian proporsi, keseimbangan fisik dan banyak lagi yang biasanya erat kaitan dengan estetika. Visi transendental melihat seni sebagai sesuatu keindahan apa adanya, tanpa dipola lagi oleh kepentingan-kepentingan rupawi yang seimbang menurut mata, genah menurut rasa, atau canggih menurut karsa, sebab transendental sendiri memiliki pengertian sesuatu yang sulit difahami, atau di luar pengertian dan pengalaman biasa.

Betis yang mulus itu bagus bahkan orang mengatakannya indah. Namun betis yang penuh kudispun ternyata diindahkan orang pula kendati dengan perasaan jijik. Namun demi kebutuhan artistika seni, betis yang penuh kudis tersebut berkat suatu idea yang “tak masuk akal” bisa saja menjadi inspirasi artistik selain wajah cantik, pemandangan indah, bunga yang beraneka warna, dsb. Menikmati keindahan betis penuh kudis merupakan hal yang tak masuk akal dalam kondisi yang normal. Namun setelah obyek betis kudisan tersebut ditransfer ke latar kanvas dan menjadi lukisan artistik, maka keindahan sisi lain akan hadir di ruang kesadaran kita. Pada saat itulah kita temukan keindahan transendental yang tidak estetis, sebagaimana juga tatkala kita mengagumi lukisan sudut-sudut yang kumuh, rumah reyot yang penuh sampah berbau busuk, dsb.

Menikmati keindahan lukisan Affandi, tak mungkin lewat kacamata estetika yang biasa. Kita lebih membutuhkan visi transendental ketimbang visi estetik tatkala mengamati karya Sang maestro yang menurut pengamatan awam bagaikan benang kusut tersebut. Begitu pula tatkala kita mengamati kucing-kucingnya Popo Iskandar, sketsa-sketsanya Rusli, lukisan-lukisannya Marc Chagall, dsb.

Tatkala Jeihan menjumpai idea artistik “mata bolong” yang terilhami lukisan figuratifnya Amedeo Modigliani, visi transendentallah yang ia temukan pada saat itu.


Selfportrait Affandi yang melukiskan penderitaan panjang yang dialaminya, telah melontarkan typering primer seorang manusia yang memiliki mental baja. Kenikmatan mengisap cangklong terpancar dari wajah tua yang keriput. Mentari hitam yang melatarbelakanginya, silhuette wajah yang menjadi emphasis yang dominan, telah mencuatkan keindahan transendental yang sulit dinikmati orang-orang awam.

Begitu pula tatkala Karel Apel mencipratkan warna-warni cat minyak dengan galaknya di atas kanvas besar yang bergetar-getar tertekan jari-jemarinya yang belongkotan. Emosinya yang binal pada saat itu, terenergi gerakan-gerakan bawah sadar yang tak mungkin dipola lagi oleh patern-patern estetika. Oleh sebab itu, kesibukan Karel Apel tatkala melukis, merupakan pintonan unik yang mengasikkan. Segenap anggota tubuhnya bergetar, ekspressi wajahnya pun seakan meraung-raung membagikan kelebihan emosi yang tak terwadahi kepada orang lain yang menyaksikannya. Tak berlebihan kiranya jika peristiwa seperti itu sudah boleh dibilang sebuah teater kecil yang memancing empathy secara berkesinambungan.

Hampir semua lukisan Willem de Kooning tak mungkin ditatap lewat kacamata estetika. Kebinalan melukis hampir setara dengan Karel Apel, cuma bedanya, lukisan Willem de Kooningl masih mengikatkan diri pada figur-figur sebagaimana halnya kita lihat pada karyanya yang berjudul Women I , sedangkan hampir semua lukisan Karel Apel bergaya abstraktionisme yang sama sekali tak menyertakan figur-figur.

Memang, keindahan transendental tak senantiasa melekat pada setiap karya seni atau alam sebagai obyek seni. Sebuah batang pohon yang telah keropos dimakan rayap, bisa saja menghadirkan bentuk artistik (nyeni) kendati tak bernilai estetis samasekali. Andaikan seniman pekak terhadap getar transendental dari obyek yang telah dianggap sampah tersebut, maka dengan sedikit rekayasa seni, jadilah batang kropos tersebut menjadi benda “baru” yang memiliki nilai seni.


Salah satu lukisan kucing Popo Iskandar yang tak diserap dari signal-signal keindahan obyektif. Popo menyerap figur kucing secara kepekaan yang nonvisual, berbeda dengan lensa fotografi yang mampu merekam obyek natural yang normal. Visi seninya bukanlah sekedar visi estetik.

Berbeda pula dengan lukisan Mulyadi yang berjudul “Kakak-beradik” ini. Sang pelukis mewedarkan visi estetikanya lewat penglihatan Modigliani yang polos. Akan tetapi berbeda dengan lukisan Jeihan yang juga diilhami oleh “mata bolor”-nya Modigliani, Mulyadi lebih menuangkan figur-figur gadis cilik lewat tataan rupa yang semi dekoratif-estetik. Namun visi estetika Mulyadi berbeda dengan visi “Estetisme” para perupa super bebas yang cenderung mengekspose Libidoisme Freudian. Dalam kata lain, lukisan-lukisan Mulyadi kebanyakan memiliki nilai estetika tinggi, namun tidak estetisme!

Walhasil, seni pada umumnya atau seni rupa pada khususnya, tak perlu kita klaim sebagai wahana estetis yang mesti sarat dengan nilai-nilai estetis, sebab arti dari estetik berbeda dengan arti dari kata artistik. Sesuatu yang artistik bisa saja memiliki keindahan yang transendental, oleh sebab itu, suatu yang artistik bisa saja tak memiliki nilai estetis samasekali; atau mungkin pula, sebuah karya seni bisa saja memiliki keduanya sekali gus, ya estetis, ya transendental sebagaimana pada beberapa lukisan Pablo Picasso, Ferdinand Leger, Georges Braque, atau pelukis Indonesia Ahmad sadali, Bagong Kussudiardjo, dsb.


Lukisan Bagong Kussudiardjo berjudul “Kekayon” ini dibuat dengan teknik batik. Tataan rupa dekoratifnya memberikan kesan magistik namun estetis.

Perupa Ahmad Sadali dengan lukisan cat minyaknya yang berjudul “Hiasan berbingkai Emas” ini lebih menuangkan idea-ideanya lewat tataan yang abstrak, namun jika kita telaah lebih dalam, getar religiositasnya akan terasa lewat campuran dan susunan warna yang matang. Keindahan transesnden pada lukisan Sadali tak mungkin dinikmati lewat kacamata naturalistik!

Lain pula dengan lukisan Rembrant “St. John The Baptist Preaching” yang bergaya realistik ini. Nilai-nilai religiositas transenden terpancar berkat “adegan visual” dan penggunaan teknik “cahaya jendela”, ialah konsep rupa di mana emphasis cahaya terhadir sedemikian rupa sehingga munculnya impressi yang khas yang membuat komposisi piktura menjadi “unik” dan tidak monoton.

Resolusi akhir

Ternyata keadiluhungan seni tak mungkin tercapai tanpa mengikutsertakan Keadiluhungan Tuhan. Estetisme yang kebablasan cuma mencuatkan “sikap batin yang beku” ( frozen emotional attitude) di kalangan para seniman yang semakin lupa bahwa berkesenian merupakan bagian ibadah kepada Sang Mahakreator yang Mencitrarasakan segenap keindahan di alam semesta ini. Memberhalakan nilai-nilai estetik tanpa memperhatikan koridor-koridor moral keagamaan- agama manapun – akan menghapus nilai-nilai pendidikan yang positif yang semestinya terukir indah dalam sebuah karya seni, termasuk dalam karya seni rupa yang memiliki “keindahan estetis” atau dalam karya seni rupa lainnya yang memiliki “keindahan transenden”.

KEUNIKAN GAGASAN DAN TEKNIK DALAM KARYA SENI TERAPAN DAERAH SETEMPAT

A. Karakteristik Seni Rupa dan Cabang-cabangnya

Seni Rupa adalah sebuah konsep atau nama untuk salah satu cabang seni yang bentuknya terdiri atas unsur-unsur rupa yaitu: garis, bidang, bentuk, tekstur, ruang dan warna. Unsur-unsur rupa tersebut tersusun menjadi satu dalam sebuah pola tertentu. Bentuk karya seni rupa merupakan keseluruhan unsur-unsur rupa yang tersusun dalam sebuah struktur atau komposisi yang bermakna. Unsur-unsur rupa tersebut bukan sekedar kumpulan atau akumulasi bagian-bagian yang tidak bermakna, akan tetapi dibuat sesuai dengan prinsip tertentu. Makna bentuk karya seni rupa tidak ditentukan oleh banyak atau sedikitnya unsur-unsur yang membentuknya, tetapi dari sifat struktur itu sendiri. Dengan kata lain kualitas keseluruhan sebuah karya seni lebih penting dari jumlah bagian-bagiannya.

Karya seni rupa dapat dibagi menjadi dua yaitu: karya seni rupa dua dimensi dan karya seni rupa tiga dimensi. Karya seni rupa dua dimensi adalah karya seni rupa yang hanya memiliki dimensi panjang dan lebar atau karya yang hanya dapat dilihat dari satu arah pandang saja. Contohnya, seni lukis, seni grafis, seni ilustrasi, relief dan sebagainya. Karya seni rupa tiga dimensi adalah karya seni rupa yang memiliki dimensi panjang, lebar dan tinggi, atau karya yang memiliki volume dan menempati ruang. Contoh : seni patung, seni kriya, seni keramik, seni arsitektur dan berbagai desain produk.

Seni Rupa jika dilihat dari segi fungsinya dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu seni murni (fine art) dan seni pakai / terapan (applied art). Seni murni adalah karya seni rupa yang dibuat semata-mata untuk memenuhi kebutuhan artistik. Orang mencipta karya seni murni umumnya berfungsi sebagai sarana untuk mengekspresikan cita rasa estetik. Kebebasan berekspresi dalam seni murni sangat diutamakan. Yang tergolong dalam seni murni yaitu: seni lukis, seni patung, seni grafis dan sebagian seni kerajinan.

Seni Terapan atau seni pakai (applied art) adalah karya seni rupa yang dibuat untuk memenuhi kebutuhan praktis. Contoh seni terapan yaitu:arsitektur, poster, keramik, baju, sepatu, dan lain-lain. Dalam pembuatan seni pakai biasanya faktor kegunaan lebih diutamakan daripada faktor keindahan atau artistiknya. Membuat karya seni terapan tampak lebih sulit dibandingkan karya seni murni. Hal itu mungkin karena membuat karya seni murni terasa lebih bebas dibanding membuat karya seni terapan karena tidak memperhitungkan fungsi. Akan tetapi sering pula terjadi sebaliknya, melukis bisa lebih sulit daripada membuat rumah tinggal.

B. Fungsi dan Tujuan Seni Rupa

Sebagai unsur budaya, seni hadir atau diciptakan untuk memenuhi kebutuhan manusia baik lahir maupun batin. Sebuah unsur budaya akan tetap terpelihara keberadaannya jika unsur budaya tersebut masih berfungsi dalam kehidupan sosial. Dalam kehidupan sehari-hari kita dapat merasakan betapa kita sangat membutuhkan sarana berekspresi dalam menikmati keindahan bentuk.

Berdasarkan fungsinya dalam memenuhi kebutuhan manusia, seni dipilah menjadi beberapa kelompok.

1. Fungsi Individual

Manusia terdiri dari unsur fisik dan psikis. Salah satu unsur psikis adalah emosi. Maka fungsi individual ini dibagi menjadi fungsi fisik dan fungsi emosi.

a. Fisik

Fungsi ini banyak dipenuhi melalui seni pakai yang berhubungan dengan fisik, seperti; busana, perabot, rumah alat transportasi dan sebagainya.

b. Emosional

Fungsi ini dipenuhi melalui seni murni, baik dari senimannya maupun dari pengamat atau konsumennya. Contoh: lukisan, patung, film dan sebagainya.

2. Fungsi Sosial

Fungsi sosial artinya dapat dinikmati dan bermanfaat bagi kepentingan orang banyak dalam waktu relative bersamaan. Fungsi ini dikelompokkan dalam beberapa bidang.

a. Rekreasi / hiburan

Seni dapat digunakan sebagai sarana untuk melepas kejenuhan atau mengurangi kesedihan. Contoh: film, komedi, tempat rekreasi dan sebagainya.

b. Komunikasi

Seni dapat digunakan untuk mengkomunikan sesuatu seperti pesan, kritik, kebijakan, gagasan, dan produk kepada orang banyak. Contoh: iklan, poster, spanduk, dan lain-lain.

c. Edukasi / Pendidikan

Pendidikan juga memanfaatkan seni sebagai sarana penunjangnya, contoh; gambar ilustrasi pada buku pelajaran, poster ilmiah, foto dan sebagainya.

d. Religi / Keagamaan

Karya seni dapat dijadikan ciri atau pesan keagamaan. Contohnya; kaligrafi, arsitektur tempat ibadah, busana keagamaan dan sebagainya.

C. Seni Rupa Terapan Daerah Setempat

1. Seni Bangun / Arsitektur

Seni bangun merupakan salah satu hasil budaya masyarakat. Masyarakat Nusantara membuat bangunan dalam berbagai fungsi, yaitu tempat tinggal, lumbung padi, dan tempat beribadah. Di Jawa Tengah terdapat rumah Joglo yang berfungsi sebagai tempat tinggal dan sekaligus menjadi ciri khas budaya masyarakatnya. Demikian pula dengan masjid Demak yang struktur bangunannya sangat dekat dengan struktur rumah joglo.

2. Pakian Adat

Pengaruh budaya setempat juga sangat terlihat pada pakaian adat. Pada masa sekarang busana adat Jawa Tengah sering kita lihat pada upacara-upacara perkawinan Di Jawa Tengah pakaian adat menjadi pakaian resmi yang terpengaruh dari kalangan istana yang biasa digunakan untuk upacara kerajaaan atau upacara-upacara Keraton. Misalnya pada busana kenegaraan abdi dalem yang mengiringi kereta kuda Sultan Yogyakarta dan Surakarta dalam iring-iringan upacara. Busana tersebut berupa kaos kaki sutera, sepatu, gesper, dan jas beludru yang dihiasi dengan jalinan berpita emas. Busana adat Jawa Tengah mendapat pengaruh dari Eropa pada era Kolonial Belanda.

3. Wayang

Pertunjukan wayang di Indonesia bukan saja sebuah kesenian, melainkan juga sumber nilai. Wayang dalam perkembangannya sebagai sumber nilai, menyerap berbagai ajaran tentang penghormatan kepada alam, nenek moyang dan para dewa-dewi. Penghormatan itu dilakukan oleh manusia sebagai keinginan dasar untuk berhubungan dengan kekuatan adikodrati (supranatural), kepemimpinan dan kepahlawanan.Selain itu penghormatan semacam itu dilakukan sebagai bentuk hubungan manusia dengan Tuhan, dan juga hubungan manusia dengan manusia lain. Kesenian wayang umumnya memuat ajaran keagamaan dan kehidupan. Wayang selalu berubah dan menyesuaikan diri dengan konteks keagamaan dan zamannya. Pada masa penyebaran agama Hindu-Budha dan juga Islam dan Kristen, kesenian wayang selalu dimanfaatkan sebagai media yang popular dan efektif untuk dakwah keagamaan.

Meskipun sudah berkembang sejak masa Hindu-Buddha, kesenian wayang di Jawa mendapat sentuhan kreatif pada masa Islam. Sentuhan itu bukan saja terlihat dalam bentuknya melainkan juga pada tema-temanya. Meskipun begitu, wayang tetap mengandung pakem-pakem cerita utama, seperti Ramayana dan Mahabarata. Kesenian wayang di Jawa menjadi alas dakwah dan pendidikan paling efektif dan telah diterima masyarakat sehingga tetap hidup dalam berbagai bentuk perkembangannya sampai sekarang. Dari kesenian wayang yang bernafaskan Islam tersebut lahirlah sejumlah jenis wayang antara lain Wayang Kulit, Wayang Beber, Wayang Kayu, Wayang Krucil, Wayang Golek, bahkan Wayang Suket.

4. Perabot dan Benda Rumah Tangga

Perabot rumah tangga di Indonesia khususnya di Jawa banyak dipengaruhi gaya Eropa dan muncul pertama kali di kalangan istana. Perabot rumah tangga mulai digunakan di kalangan istana karena pada masa itu Sultan tidak dapat menerima perbedaan yang kontras antara dirinya dengan orang-orang Eropa. Orang Eropa duduk di tempat yang tinggi, seperti kursi atau sofa sedangkan dirinya duduk di lantai atau tikar. Akhirnya Sultanpun mulai menggunakan kursi, terutama di tempat kegiatan, serta saat Sultan dan pegawai belanda muncul bersamaan. Perabot rumah tangga asli didatangkan kalangan istana dan orang-orang Eropa serta dipakai sebagai lambang kebesaran. Pola-pola hiasnya kemudian ditiru oleh para perajin lokal. Hingga sekarang rumah-rumah dan perabotan orang Indonesia banyak mengandung unsur arsitektur yang mencerminkan kebesaran pemerintah Belanda.

Selain kursi, perabot rumah tangga yang lain banyak juga yang disertai hiasan dengan motif gaya Eropa.

5. Batik

Seperti halnya kesenian wayang, batik telah menjadi bagian dari kekayaan seni rupa tradisional di Nusantara, jauh sebelum masuknya Islam. Mitos awal tentang batik sudah ada sejak sekitar taun 700 Masehi. Mitos tersebut bercerita tentang istri Pangeran Jenggala, Lembu Ami Luhur. Dia seorang putrid dari Coromandel. Ia mengajari orang Jawa menenun, membatik dan mewarnai kain. Sejak itu kain batik dengan berbagai motif tertentu menjadi bagian dari identitas busana dan budaya raja, permaisuri dan keluarga istana pada masa kerajaan Hindu. Namun catatan tertulis tentang batik baru muncul pada tahun 1518, di wilayah Galuh di wilayah Barat laut Jawa.

Pada masa Islam batik terus berkembang, terutama dalam kekayaan motif dan arti perlambangannya. Pada masa Islam motif animisme dan Hinduisme yang muncul pada masa kerajaan Hindu diperkaya dengan motif Kaligrafi Arab, Masjid, Kakbah dan permadani. Di samping itu motif Cina sangat kental pada motif batik. Dalam sebuah cerita disebutkan bahwa Sultan Agung, Raja Islam pertam Mataram (1613-1645) memakai batik dengan motif burung Huk. Dalam mitologi Cina, burung Huk melambangkan keberuntungan.

Pada masa Islam dan masa sebelumnya, tradisi batik memang cenderung menjadi bagian dari tradisi istana. Namun dalam perkembangannya, ketika nilai-nilai keistanaan meluntur, nilai-nilai batik menjadi memasyarakat. Batikpun dibuat dan dipakai oleh banyak kalangan. Hasanuddin dalam bukunya yang berjudul Batik Pesisiran menyebutkan bahwa kegiatan membatik didasarkan pada lima motivasi dasar, yaitu:

a. Membatik sebagai kegiatan sambilan wong cilik.

b. Kegiatan membatik sebagai komoditas.

c. Membatik sebagai tradisi kalangan bangsawan.

d. Kegiatan membatik sebagau usaha dagang orang Cina dan Indo-Belanda yang ragam hias dan fungsinya diperuntukan bagi kalangan terbatas.

e. Membatik sebagai kebutuhan seni atau desain dengan konsep kontemporer.

6. Ragam Hias / Pola Wastra

Pada abad ke 18 dan 19, perdagangan batik di Indonesia berkembang pesat. Oleh karena kepesatan tersebut mulailah orang-orang Cina terjun sebagai pedagang batik dalam skala kecil maupun besar. Selain terjun sebagai pengusaha, orang-orang Cina mulai merintis dan membuka peruahaan batik sendiri. Para pekerjanya adalah warga pribumi dengan disiplin kerja yang ketat. Oleh sebab itu mutu batiknya cukup baik

Batik produksi pengusaha Cina cenderung menggunakan warna terang dan beraneka ragam. Pewarna yang digunakan adalah indigosol yang cukup tahan gosokan dan sinar matahari. Ragam hias yang batik yang paling popular adalah burung funiks yang berekor panjang, meander dan swastika. Ragam hias model ini banyak dipakai pada selendang lokcan berbahan sutera.

Perkembangan ragam hias batik Cina dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan selera konsumen. Di daerah Lasem misalnya, ragam hias batik Cina lebih rumit dan datar. Warna yang digunakan antara lain merah, biru, ungu, kuning, dan cokelat. Dalam proses perkembangannya susunan corak, ragam hias, dan warna batik Cina dan pribumi saling mempengaruhi dan melengkapi. Batik yang dibuat di daerah Pantai Utara Laut Jawa menggunakan corak terang, serta memadukan lukisan burung dan bunga. Hal itu jelas menandakan adanya pengaruh Cina. Batik Cirebon juga dikenal karena penggunaan pola ragam hias Cina, yaitu awan dan batu. Pengaruh Cina juga terdapat pada sarung songket yang berbenang emas dari Bali dan Sumatera serta kain perada Bali.

Aliran-Aliran Seni Rupa

Berbagai aliran dalam seni rupa berkembang terus dari jaman ke jaman, antara lain :
1. Naturalisme
Aliran ini merupakan suatu aliran seni rupa yang mengutamakan kesesuaian dengan keadaan mahluk hidup, alam, dan benda mati sebenarnya. Contoh yang paling terlihat adalah pada lukisan potret diri, pemandangan alam, atau landscape.
contoh dari naturalisme :

2. Realisme
Aliran ini menunjukkan suatu keadaan sosial yang sesungguhnya dan biasanya memprihatinkan dan sedang bergejolak di dunia atau suatu tempat tertentu. Contoh aliran seni rupa ini antara lain melukiskan kemiskinan, kesedihan, atau peristiwa yang memilukan.

3. Romantisme
Aliran ini umumnya ditandai oleh tema-tema yang fantastis, penuh khayal, atau petualangan para pahlawan purba. Juga banyak menampilkan berbagai perilaku dan karakter manusia yang dilebih-lebihkan.
Para pelukis ini antara lain Eugene delacroik (1798-1963), Jean Baptiste Camille Corot(1796-1875) dan Rousseau (1812-1876). Gaya ini juga berkembang di Jerman, Belanda, dan Perancis.
Aliran Romantisme merupakan aliran tertua di dalam sejarah seni lukis modern Indonesia. Lukisan dengan aliran ini berusaha membangkitkan kenangan romantis dan keindahan di setiap objeknya. Pemandangan alam adalah objek yang sering diambil sebagai latar belakang lukisan.
Romantisme dirintis oleh pelukis-pelukis pada zaman penjajahan Belanda dan ditularkan kepada pelukis pribumi untuk tujuan koleksi dan galeri di zaman kolonial. Salah satu tokoh terkenal dari aliran ini adalah Raden Saleh.
4. Impresionismealiran seni rupa
Aliran ini dalam dunia seni rupa berawal dari ungkapan yang mengejek pada karya Claude Monet (1840-1926) pada saat pameran di Paris tahun 1874. Karya ini menggambarkan bunga teratai dipagi hari yang ditampilkan dalam bentuk yang samar dan warna kabur dan oleh sebagian kritikus seni disebut sebagai “impresionistik “, suatu lukisan yang menampilakan bentuk yang sederhana dan terlampau biasa.
5. Ekspresionisme
Adalah suatu aliran dalam seni rupa yang melukiskan suasana kesedihan, kekerasan, kebahagiaan, atau keceriaan dalam ungkapan rupa yang emosional dan ekspresif. Salah seorang pelukis yang beraliran Ekspresionisme adalah Vincent van Gogh (1853-1890). Lukisan lukisannya penuh dengan ekpresi gejolak jiwa yang diakibatkan oleh penderitaan dan kegagalan dalam hidup.salah satu lukisan nya yang terkenal adalah “Malam Penuh Bintang “(1889), yang mengekspresikan gairah yang tinggi sekaligus perasaan kesepian.
contoh teknik ekspresionisme :

6. Kubisme
Kubisme adalah suatu aliran dalam seni rupa yang bertitik tolak dari penyederhanaan bentuk-bentuk alam secara geometris (berkotak-kotak). Pada tahun 1909 berkembang aliran kubisme Analistis yang mengembangkan konsep dimensi empat dalam seni lukis. Dan dimengerti sebagai konsep dimensi ruang dan waktu dalam lukisan.
Pada setiap sudut lukisan terlihat objek yang dipecah-pecah dengan posisi waktu yang berbeda. Sedangkan Kubisme Sintetis, pelukisannya disusun dengan bidang yang berlainan yang saling tumpang dan tembus.
Adalah aliran yang cenderung melakukan usaha abstraksi terhadap objek ke dalam bentuk-bentuk geometri untuk mendapatkan sensasi tertentu. Salah satu tokoh terkenal dari aliran ini adalah Pablo Picasso.
7. Konstruksifisme
Aliran seni ini awalnya berkembang di Rusia penggagasnya antara lain Vladimir Tattin, Antoine Pevsner, dan Naum Gabo. Gaya ini mengetengahkan berbagai karya seni berbentuk tiga dimensional namun wujudnya abstrak. Bahan-bahan yang dipergunakan adalah bahan modern seperti besi beton, kawat, bahkan plastik.
8. Abstrakisme
Seni ini menampilkan unsur-unsur seni rupa yang disusun tidak terbatas pada bentuk-bentuk yang ada di alam. Garis, bentuk, dan warna ditampilkan tanpa mengindahkan bentuk asli di alam. Kadinsky dan Piet Mondrian marupakan sebagian perupa beraliran abstrak ini. Seni Abstrak ini pada dasarnya berusaha memurnikan karya seni, tanpa terikat dengan wujud di alam.
contoh :

9. Dadaisme
Adalah gerakan seni rupa modern yang memiliki kecendrungan menihilkan hukum–hukum keindahan yang ada.Ciri utama gaya ini adalah paduan dari berbagai karya lukisan, patung atau barang tertentu dengan menambahkan unsur rupa yang tak lazim sebagai protes pada keadaan sekitarnya, seperti lukisan reproduksi lukisan “Monalisa “ karya Leonardo da Vinci tetapi diberi kumis, atau petusan laki-laki diberi dudukan dan tandatangan, kemudian dipamerkan di suatu galeri.
10. Surealisme
Adalah penggambaran dunia fantasi psikologis yang diekspresikan secara verbal, tertulis maupun visual. Bentuk-bentuk alam dideformasi, sehingga penuh fantasi dan di luar kewajaran.
Lukisan dengan aliran ini kebanyakan menyerupai bentuk-bentuk yang sering ditemui di dalam mimpi. Pelukis berusaha untuk mengabaikan bentuk secara keseluruhan kemudian mengolah setiap bagian tertentu dari objek untuk menghasilkan sensasi tertentu yang bisa dirasakan manusia tanpa harus mengerti bentuk aslinya.
11. Elektisisme
Yaitu gerakan seni awal abad ke- 20 yang mengkombinasikan berbagai sumbergaya yang ada di dunia menjadi wujud seni modern. Banyak yang menjadi sumber inspirasi dari gaya seni ini. Antara lain, gaya seni primitive sejumlah suku bangsa di Afrika, karya seni pra-sejarah, seni amerika Latin, gaya esetik Mesir Purba, dan Yunani Kuno. Tokoh-tokoh seni yang menerapkan gaya ini antasra lain Picasso (disamping sebagai tokoh Kubisme), Paul Gaugguin, Georges Braque, Jean Arp, Henry Moore, dan Gabo.
12. Posmodernisme
Istilah seni ini umumnya disebut seni kontemporer yaitu mengelompokan gaya-gaya seni rupa yang sezaman dengan pengamat atau yang menjadi kecenderungan popular dan dipilih oleh para seniman dalam rentang lima puluh tahun terakhir hingga sekarang.
Gaya ini sering diartikan sebagai aliran yang berkembang setelah seni modern. Jika dalam seni modern lebih memusatkan kepada ekspresi pribadi dan penggalian gaya baru, dalam seni Posmodern ungkapan seni lebih ditekankan kepada semantika (makna rupa) dan semiotika (permainan tanda rupa).
contohnya seperti doodle 

Pengertian Seni Menurut Para Ahli


Cetak E-mail
Seni - Kesenian


M. Adler : sesuatu yang memberi kita kesenangan
T. Aquines : sesuatu yang apabila dilihat membuat senang
Aristoteles : sesuatu selain baik juga menyenangkan
J. Bushnel : kualitas yang mendatangkan apresiasi
S. Coleridge : perpaduan sesuatu yang baik
F. Hegel : identitas yang sempurna dan nyata
Michellengolo : penyingkiran hal yang berlebihan
Frans H : sesuatu yang dapat memberi ide dan gagasan
Jonhson : perimbangan bagian yang menyenangkan
I Kant : sesuatu yang menyenangkan seketika, dan semesta
Eric W : gejala yang dapat di cerna oleh indra dengan baik
Herbert : bentuk penerapan indrawi manusia yang senang
J. Ruskin : benda yang dapat memberi kesenangan

  • Brade (1956) seni adalah pemanfaatan budi dan akal untuk menghasilkan karya yang membahagiakan jiwa spiritual manusia
  • Lager (1964) seni adalah kegiatan untuk menciptakan sesuatu yang dapat dipahami oleh perasaan manusia bentuknya berupa lukisan patung, arsitektur, musik, tari, film dan lain-lain
  • Read (1968) seni adalah ekspresi sebuah pengalaman nyata yang memiliki nila yang berdiri sendiri yang dapat ditangkap oleh panca indra

Keindahan adalah nilai-nilai estetis yang menyertai sebuah karya rupa

Seni rupa

Seni rupa adalah cabang seni yang membentuk karya seni dengan media yang bisa ditangkap mata dan dirasakan dengan rabaan. Kesan ini diciptakan dengan mengolah konsep garis, bidang, bentuk, volume, warna, tekstur, dan pencahayaan dengan acuan estetika.

Seni rupa dibedakan ke dalam tiga kategori, yaitu seni rupa murni atau seni murni, kriya, dan desain. Seni rupa murni mengacu kepada karya-karya yang hanya untuk tujuan pemuasan eksresi pribadi, sementara kriya dan desain lebih menitikberatkan fungsi dan kemudahan produksi.

Secara kasar terjemahan seni rupa di dalam Bahasa Inggris adalah fine art. Namun sesuai perkembangan dunia seni modern, istilah fine art menjadi lebih spesifik kepada pengertian seni rupa murni untuk kemudian menggabungkannya dengan desain dan kriya ke dalam bahasan visual arts.